Bagiku, bulan puasa selalu jadi bulan istimewa, bukan saja karena ini bulan yang istimewa bagi agama kita, tetapi juga karena di bulan ini aku selalu mengenang dirimu. Kenangan termanis pernah terukir di bulan ini bersamamu, kenangan terindah yang pernah kumiliki seumur hidupku.
Bagiku, bulan puasa adalah bulan madu, bulan-bulan permulaan kita menjalani kebersamaan yang begitu sempurna. Saat itu kita selalu bersama, memadu kasih, larut oleh pesona yang tak pernah lagi aku punya.
Masih jelas kurasa debar-debar hati yang begitu membuai, kemesraan yang penuh warna, menahan hasrat hingga maghrib tiba. Kita begitu dekat terbuai rasa, tetapi hanya dapat saling memeluk dan meraba.
Aku ingat saat-saat awal bulan kamu memasak di dapur, dan kupeluk tubuhmu dari belakang, dan kamu menggeliat dan meleguh manja. Duh... aku rindu mengulangnya.
Aku ingat saat kita didepan komputer di balik almari rumah. Aku sibuk mengetik dan tanganmu merayap mesra di balik sarung yang aku kenakan begitu lama hingga menjelang. Kita terkejut saat tiba-tiba mas Didik tiba, dan kita berpura-pura tak terjadi apa-apa.
Aku tak pernah bisa lupa saat seharian kita bermesraan berdua hingga maghrib tiba. Saat senja tiba dan rumah begitu gelap dan adzan berkumandang di mana-mana, aku menindih tubuhmu, menggeser celana dalammu dan kita menyatu.
Aku sadar itu dosa, tapi terlalu indah untuk menyesalinya. Aku tahu hari-hari ini kamu ingin melupakannya, menghapusnya dari hari-hari kita, tapi aku yakin kamu tak akan bisa, sebagaimana aku yang tak akan pernah melupakannya. Aku bahkan selalu berhayal akan mengulanginya, kebersamaan yang begitu sempurna, tak peduli kamu dan aku siapa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar