Sabtu, 28 November 2015

ANTARA AKU DAN FASYA

Fasya adalah wanita paling istimewa dalam hidupku. Aku mengenalnya sejak SMA sementara dia sendiri waktu itu masih SMP. Terus terang aku sudah naksir dia sejak pertama bertemu, hanya saja waktu itu aku masih jauh untuk urusan cinta. Apalagi, teman dekatku, Bairi, sudah terang-terangan menyatakan naksir sama dia. Anehnya lagi, aku justeru sering diminta Bairi mengantarnya nemuin cewek itu di rumahnya dan sekolah.
Seiring waktu pikiranku tentang gadis itu kian redup. Apalagi sejak selesai kuliah aku harus berusaha keras meniti karier. Jalan hidup benar-benar tak dapat diduga. Saat aku justeru ketemu kembali dengan Fasya saat hijrah ke Jogja. Getar-getar perasaan yang lama hilang, seketika tumbuh kembali, tapi sayang ternyata aku terlalu minder untuk urusan perempuan. 
Setelah ribuan kali mengumpulkan keberanian, akhirnya aku berani mendekati gadis itu. Saat aku tanya apakah dia sudah punya pacar, secara mengejutkan dia bilang sudah. Pupus sudah harapanku, tapi anehnya gadis itu justeru semakin dekat denganku.
Aku menikmati kedekatan itu, meski aku tahu tertutup sudah harapanku untuk memilikinya. Meski hanya dengan status teman, hubungan kami kian akrab. Aku bahkan berani mengajaknya nonton bioskop, berbagai pertunjukan atau sekedar bakar jagung di alun-alun selatan. 
Aku berusaha tak pedulikan getar-getar perasaan yang sangat kuat mendera setiap kali dekat dengannya. Getaran itu semakin kuat saat nonton teater di Santikara, hingga rasanya aku tak ingin buru-buru pulang usai pertunjukan. Kami berputar-putar di kota tanpa tahu akan ke mana. 
Aku benar-benar tak tahu akan membawanya ke mana hingga Fasya berbisi, "Kita ke Kaliurang saja, mas". Dengan gerak ragu aku menurutinya ke daerah yang belum pernah kukunjungi itu selama di Jogja. Di tengah perjalanan yang semakin gelap, tiba-tiba dia bilang "Kok gelap sekali, ya? Gimana kalau ke parang tritis saja?", dan tanpa banyak kata aku memutar haluan motorku ke selatan, menembus gelapnya jalanan masa itu. 
Setelah setahun di Jogja aku juga sama sekali belum pernah ke pantai yang terkenal itu. Aku sama sekali tak tahu arah, kecuali sekedar mengikuti arahan Fasya. 

Selasa, 13 Oktober 2015

MIMPI BASAH TERINDAH DENGAN MANTAN PACAR

Akhir-akhir ini aku merasa kamu menjauhiku. Kamu seperti enggan menanggapi sapaanku.  Sepertinya kamu marah padaku, entah karena apa aku tak tahu. Jujur, aku sangat gelisah sejak saat itu. Berat bagiku bila kau lepas aku dari hatimu. 
Beberapa waktu lalu kau bilang sedang sakit, dan seperti sebelumnya kamu seperti malas menanggapi pertanyaanku. Sedikit kabar itu membuatku tak henti memikirkanmu. Aku sungguh ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi padamu.
Kegundahaan itu terus terbawa dalam tidurku. Aku ingin menjengukmu. Aku ingin sekali memastikan keadaanmu. Dengan langkah ragu akupun memberanikan diri mendatangi rumahmu.  Aku merasa teramat canggung saat bertemu keluargamu, bahkan saat mereka mengantarku ke dalam bilik pembaringanmu.
Aku heran mereka meninggalkanku di kamar itu, dan hanya berdua denganmu. Beberapa saat aku menatapmu yang tidur terkulai di hadapanku. Aku begitu sedih melihatmu terbaring lemah siang itu. 
Dengan menahan takut dan ragu perlahan aku beranjak mendekatimu lalu kucium lembut keningmu. Aku terkejut saat tiba-tiba saja kau membuka mata dan sembari tersenyum menatapku.  Aku begitu bahagia setelah sekian lama berpisah kulihat lagi senyum manismu itu.
“Sudah lama, mas?” sapamu sembari memegang jemariku.
“Baru saja” Jawabku lirih sembari tak henti menatap wajahmu.
“Aku kangen” Ucapmu dengan suara lirih berdesah.
“Aku juga, dik” Sahutku menanggapi, dan tiba-tiba kamu bangkit dari tidurmu, lalu mendekap tubuhku. Akupun mendekapmu dengan penuh kasih. 
Sekilas ada rasa kuatir menyelinap di dadaku saat memelukmu selaksa sepasang kekasih yang lama tak bertemu. Aku bingung, bagaimana mungkin aku memelukmu, di rumahmu, sementara seseorang telah memilikimu di rumah itu. 
Akupun perlahan melonggarkan dekapanku. Aku kuatir suamimu atau keluargamu masuk kamar itu, tapi kamu malah kian erat merengkuhku. “Mas...” Bisikmu menahanku. Kitapun kembali saling merengkuh erat seakan tak akan kita lepaskan selamanya.
Tanpa terasa bibir kita saling melumat lembut, hingga nafas kita saling beradu. Beberapa lama kita tenggelam sangat dalam gelora kehangatan itu, hingga tanda kusadari tanganku telah menyingkap selimutmu, dan kurasakan tanganmu membuka resleting celanaku. 
Sesaat kemudian kau menarik tubuhku hingga menindihmu, dan kitapun menyatu, menumpahkan segenap cinta kasih yang sekian lama terpisah jalan hidup. Sesekali kau mendesah lembut sembari memanggilku, “Mas..., mas... Aku sayang kamu...”
Akupun tak henti membisikkan perasaanku, “Aku sayang banget sama kamu... Aku sayang kamu...” Bisikku di sela desahan nafas yang tak mampu kutahan. Jemarikupun seakan tak mampu kukendalikan, dan tak henti merayapi, menjelajahi setiap lekuk tubuhmu.
Entah berapa lama aku dan kamu terbuai biduk kerinduan itu, hingga tiba-tiba tubuh kita saling mengejang menggelinjang. Desir kenikmatan berpadu kasih sayang menggetarkan sekujur nadiku, membuatku mengerang menahan hasrat yang kian menggebu. Perlahan dan kian cepat gairahku memuncak, hingga akhirnya hasratku meledak hebat seiring laju air cinta yang menyembur deras ke dalam rahimmu. “Dik... Oh...” Lega rasanya menumpahkan seluruh dendam hasratku pada dirimu, dan kamupun memeluk erat tubuhku. 
Sejanak tubuhku lunglai di atas tubuhmu. Kubiarkan diriku bermanja dalam dekapanmu. Kulihat wajahmu tampak bahagia di pelukanku, hingga suara ketukan pintu kamar mengagetkanku, dan memaksaku melompat dari peraduan kita siang itu. 
Sembari membetulkan letak resleting celanaku, dengan tergesa-gesa aku kembali duduk di sofa kamarmu. Aku berusaha tenang saat ibu dan suamimu masuk ke kamar itu. Aku berpura-pura tak terjadi apa-apa di antara kita .
“Lho, sudah keringatan” Celetuk ibumu saat melihatmu, seakan mereka tak curiga pada semua yang baru saja terjadi di antara kita.
“Tadi dia lemah sekali, mas” Jelas ibumu dan aku hanya mengangguk malu, karena celanaku basah kuyup oleh cairan asmara. Aku sendiri heran mengapa begitu banyak cairan itu. Aku heran, bagaimana mungkin sperma itu tumpah dan tak tertampung rahimmu.  Aku sangat kuatir mereka tahu. 
Akupun berusaha segera berpamitan pada ibumu, tapi aku sangat-sangat kaget dan takut saat tiba-tiba saudaramu menegurku dengan nada heran. “Lho mas, kok basah celananya?” Celetuknya sembari memegangi celanaku. 
“Lho, ini kan sperma?” Celetuknya lagi.
“Kamu ngapain?” Lanjutnya sembari terus mengguncang-guncang tubuhku.
Aku benar-benar bingung dan tak tahu harus menjawab apa. “Mas.... Kok banyak sekali spermanya, kamu habis ngapain?” Ucapnya lagi sembari menarik-narik celanaku, dan saat itulah aku membuka mata. Ya, aku terbangun dan melihat isteriku keheranan melihat celanaku benar-benar basah karena mimpi basah di sofa depan TV.
“Kamu mimpi basah, ya?” Ayo, mimpi sama siapa?” Lanjut isteriku.
Aku sempat nggak enak hati sama isteri yang terus menginterogasi, tapi lega karena mendapati semua hanya mimpi.  Mimpi terindah yang ingin selalu kuulangi, bahkan ingin kurasakan di alam nyata bersamamu.