Selasa, 23 Desember 2008

RINDUKAN AKU, PLEASE....!!!

Delapan jam perjalanan dari Jogja lumayan melelahkan. Kalau bukan karena keluarga, rasanya malas bolak-balik menempuh perjalanan sejauh ini. Rasa kantuk dan lelah selama nyetir tersisih oleh keinginan bertemu keluarga, anak-anak dan tentu saja istri tercinta.
Apalagi di Jogja saat ini kian banyak pemandangan indah yang membangkitkan gairah. Di kalangan cewek sana lagi ngetred pakaian bawah model celana pendek dari kain tipis, entah apa namanya. Banyak cewek yang begitu PD jalan-jalan hanya dengan memakai celana pendek tipis, yang panjangnya tidak lebih dari separuh paha, atau lebih tepatnya hanya sekitar sepertiga paha, bahkan kurang.
Jujur saja, pemandangan ini secara signifikan selalu membangkitkan gairah. Meski
demikian , aku selalu alihkan godaan ini dengan mengingat yang biasa kutemui di
rumah, terutama saat istri sedang tidur. Aku manfaatkan saja daa tarik ini sebagai penambah kerinduanku pada kehangatan seorang istri. Meski dirundung rasa lelah, kantuk, aku berusaha tetap fokus, directing my car to stay on the way. Dalam hati aku berharap segera dapat memuaskan hasrat batin itu di rumah.
Sekitar pukul 10.30 malam akhirnya aku sampai di rumah dengan selamat, tapi kali ini tak seorangpun menyambutku. Kalau aku datang saat anak-anakku belum tidur, biasanya mereka pasti bersorak histeris seperti menyambut pahlawan yang baru datang dari medan perang. Cuma saja kali ini mereka sudah tidur, begitu pula istriku. Hanya pembantu yang suka rela membukakan pintu gerbang, garasi dan membuatkan kopi panas.
Segera saja aku mandi sebersih mungkin. Aku berharap kuman dan kotoran di jalanan tadi tidak menyebar ke seluruh penjuru rumah, apalagi menulari anak-anakku. Selain itu, aku juga berusaha agar bau badanku tidak jadi pengganggu saat aku mendekat pada istri.
Selesai mandi aku datangi anakku satu-persatu di kamarnya. Aku mencium pipi dan kening mereka dan tidak terkecuali istriku. Anak-anak hanya meregangkan tubuhnya saat merasa aku cium pipi dan keningnya, kemudian kembali tertidur pulas. Istriku juga hanya terbangun sejenak saat aku menciumnya, “Pa…, sudah nyampai?” sapanya sembari tersenyum.
Tentu saja, aku tak perlu menjawab pertanyaan itu. Segera saja kurebahkan tubuhku di samping tubuhnya. Perlahan kurengkuh tubuh sintal itu, tapi serta-merta ia menyergah, “Ih… apaan, sih?”
“Aku kangen, sayang” rajukku, sembari sedikit memaksa memeluknya. Perlahan kuelus lengannya yang terbuka, tapi serta-merta dia menepisnya. Aku tidak patah arang dan perlahan mencoba mengelus pahanya yang tersingkap. Kali ini dia tidak lagi menyergah melarang, melainkan menghardik, “Ih… capek… capek. Aku ngantuk! Sana tidur sama anak-anak saja. Orang lagi ngantuk, kok”
Akupun menyerah dan beranjak pergi. Persis seperti yang sudah-sudah, aku kembali harus menelan mentah-mentah kekecewaan batin untuk kesekian kalinya. Ditolak dan ditolak, bahkan sekedar untuk memeluk istriku sendiri.
Rasa lelah dan kantuk yang belum juga sirna kini telah bertambah rasa kesal dan kecewa. Aku hanya bisa menghibur diri dengan memotretnya dalam pose-pose seksi saat tertidur. Dalam hati aku selalu berguman, kenapa tubuh yang sebegini seksi seakan tak memiliki "strom" sama sekali?
Setelah hampir seminggu berpisah, kenapa tidak ada yang merindukanku? Ke mana kerinduan mesti kutumpahkan?
Mendapatkan hangatnya kemesraan suami-istri tak ubahnya menunggu hujan salah musim saja. Seolah perlu keberuntungan untuk mendapatkan kesempatan yang satu itu. Terus terang, kadang rasanya kesabaran ini sudah sampai titik akhirnya. Ketabahanku sudah kian kehilangan daya tahannya. Jiwa ini sungguh telah rapuh oleh kehampaan dan rasa-rasa yang tiada lagi bermakna. Bila suatu hari ada hati yang terbuka menyambut kerinduan ini, bila suatu saat ada hati yang menawari sejuknya kerinduan, aku tidak bisa janji akan mampu menghindarinya.

Minggu, 14 Desember 2008

DILEMA BATIN


Tidak Harmonis. Hubunganku dengan istri hari-hari ini terasa hambar, hambar sekali. Aku merasa rumah tanggaku sedang tidak harmonis. Mungkin saja istriku merasakan hal yang sama, tapi bisa jadi seperti biasanya dia tak mau tahu. Aku tak ingin membicarakan apa masalahnya, karena itu percuma. Bicara dengan istriku hanya nambah masalah saja, karena dia bukan orang yang bisa diajak bicara baik-baik. Lebih baik diam saja, dan lakukan apa yang menurutku baik.  
Seksualitas membeku. Kami praktis jarang sekali melakukan hubungan intim. Gairahku terhadap istri praktis menghilang, entah apa sebabnya. Aku bahkan ada perasaan tidak suka dengan istriku, padahal aku masih tertarik melihat perempuan seksi.
Sejak dia malas KB aku juga malas berhubungan intim. Diapun tak peduli pada perubahan sikapku soal penurunan tuntutan seksualitasku, yang sebenarnya sudah mulai kukurangi beberapa waktu sebelumnya. Bagiku, pada dasarnya dia memang tidak begitu membutuhkannya. Dia hanya butuh aku sebagai penjaga rumah, penjaga malam, yang membuatnya tak khawatir bila aku ada di rumah, dan sebaliknya, merasa tidak nyaman bila tidak ada aku di rumah.
Hubungan seks dengannya kian hari kian mengecewakan. Masa-masa yang lumayan seru saat pengantin baru hanya untuk dikenang. Seks tanpa gairah, dan berakhir dengan keluhan, yang sakitlah, yang keluar darahlah. Sangat dan sangat mengecewakan.  
Istriku sangat menginginkan punya anak perempuan, tapi aku sudah tidak ingin tambah anak lagi. Memang, aku lebih suka punya anak laki-laki, tapi di sisi lain, aku memang merasa berat bila harus membagi kasih sayangku pada Kaka dan Bilbil. Aku kasihan waktu Kaka punya adik. Dengan dua anak saja selama ini mereka tak terurus secara layak, apalagi bila harus tambah anak lagi. Makanya aku memilih menghindari berhubungan seks yang wajar dengan istriku. Aku tidak nyaman, karena takut istriku hamil lagi.
Istriku semakin tidak peduli dengan keluarga. Waktu dan tenaganya habis buat ngurus lembaga. Baginya tidak ada yang lebih penting dibanding sekolahan, toko dan segala macam kegiatannya. Anak, aku dan rumah kalah penting dibanding semua itu. Ini membuat aku semakin muak melihatnya. Aku tak mau terlibat, karena dia punya sifat ngêréhkalau dituruti. Dia hanya mau memperalat aku untuk memuluskan kemauannya. Respon pertama setiap ide dariku pasti penolakan. Kalaupun pada akhirnya dia pakai, itu hanya dapat terjadi atas kemauannya saja. Kalau dia tidak mau, ada beribu alasan akan dikemukakan sekedar untuk menolaknya.
Thursday, January 04, 2007

Jumat, 12 Desember 2008

SECANTIK BONEKA

Melihat rok istri yang tersingkap, sebenarnya perempuan itu masih menggoda juga. Pahanya yang ramping dan mulus merupakan tipe tubuh perempuan yang aku sukai. Hanya saja seks, ternyata masih lebih sering merupakan pikiran kita sendiri dari pada perempuan. Dia yang sejak awal tak pernah punya gairah, sepertinya semakin tak ada gairah. 
Memegang, mengelus perempuan yang tidak sedang membutuhkan seks pada dasarnya percuma. Kalaupun memberi kesenangan, itu hanya ada di pikiran kita saja, seperti kalau sedang nonton video atau foto porno. Bahkan kalau kita elus atau raba paha atau payudara perempuan lain bisa timbul kemarahan buka tergoda.
Hari-hari bersama istri semakin hilang gairah. Gimana tidak, aku hanya ketemu orang yang sudah kecapekan, dan pasti sama sekali tak tertarik seks.  Ini terjadi setiap hari. Waktunya habis untuk sekolahan dan toko koperasi. Dia begitu antusias, begitu semangat, sampai tak peduli sama sekali sama anak, rumah dan keluarga.  

Di rumah ini seperti tidak ada seorang ibu rumah tangga, tak ada istri, tak ada ibu. Hanya ada seorang perempuan dengan kesibukannya sendiri. Sangat mengecewakan.
Aku tak mau memaksanya jadi seperti istri yang lain, seperti ibu yang lain, meski ini sangat mengecewakanku.
Aku bahkan nyaris tak pernah mengajaknya bercinta, kecuali dia yang memulai. Dia terlalu dingin, dingin sekali, seperti boneka yang tak kehabisan strum untuk bercinta. Siapa yang tertarik bercinta dengan boneka? Aku benar-benar telah kehilangan gairah, dan terus berusaha agar gairah itu hilang. Seks selalu jadi pengalaman mengecewakan. Untuk apa bersenang-senang kalau hanya untuk kecewa?
Dia benar-benar tak dapat aku harapkan untuk yang satu ini. Dipaksa juga tidak mungkin, dan aku terlanjur terlalu percaya bahwa itu mustahil. Jadi, biarkan saja dia dengan semua yang dia suka lakukan. 
Saturday, December 09, 2006


Selasa, 09 Desember 2008

KETIKA ISTRI TAK MEMBUTUHKAN SEKS

Istriku adalah perempuan paling unik yang pernah kujumpai. Sejak awal menikah dia memang punya pandangan berbeda tentang urusan yang satu ini. Alam pikirannya sangat dikuasai oleh pandangan-pandangan tradisional yang memandang seks sebagai sesuatu yang tabu bahkan menjijikkan. Bahkan sejak malam pertama, dia sudah bilang hanya mau melakukannya karena ingin punya anak saja.Semula aku kira hanya gurauan, ternyata benar demikian. 
Yang terberat bagiku justeru sikapnya yang seakan tidak membutuhkanku. Aku bahkan sempat berniat  meninggalkannya kurang dari seminggu sejak hari pernikahan. Aku urungkan niatku itu karena tak tahan melihatnya menangis, bahkan bebrapa kali harus opname di rumah sakit. Dengan derai air mata berkali-kali dia bilang, "Jangan tinggalkan aku". Akhirnya akupun luluh melihatnya. Aku berjanji tak akan meninggalkan wanita yang sebenarnya bertampang cantik ini. 

Rupanya tidak hanya pola pikir dan pandangan keagamaannya saja yang membuat dia tidak menyukai seks. Secara fisik dia memang terkategori frigid. Tidak sebagaimana cewek yang pernah jadi kekasihku sebelumnya, dia tidak pernah merasa terangsang meski diapakan juga. Dia hanya merasa seperti digelitik saja.

Satu-satunya cara supaya dia bisa melayani kebutuhanku hanyalah dengan teknik culiningus (oral). Kurang dari lima menit, dia pasti menggelinjang hebat dan minta aku segera intercourse. Itupun biasanya tidak lama. Sekitar lima menit kemudian, dia pasti minta aku menyudahi hubungan. Ini dikarenakan dia ternyata juga menderita vaginismus, penyempitan vagina. Punya dia memang terasa sempit sekali, ketat sekali jepitannya, seperti dijepit karet saja. 

Tentu saja aku sangat kecewa dengan semua ini. Belum apa-apa, bahkan aku belum sempat keluar dia minta sudahan. Kalaupun sampai keluar, biasanya karena aku setengah memaksa. Hati ini rasanya sangat tertekan. ML sama istri tak ubahnya dengan memperkosa perempuan tak berdaya saja. 

Berbagai usaha telah kulakukan, mulai dari bujuk rayu yang setinggi langit manapun yang pernah ada, nonton film porno, buku dan artikel seksualitas, tapi hasilnya tidak seberapa memuaskan. Bukan saja tidak romantis, dia benar-benar tidak tahu, tidak merasakan apa yang disukai dan diinginkan kaum adam, dan tidak peduli. 
Sampai hari ini dia bahkan merasa sebagai wanita normal, meski dokter wanita yang dia percaya sudah bilang kalau dia terindikasi bermasalah dalam hal yang satu ini. Dia bener-bener wanita yang sangat kukuh dengan keyakinan dan pendiriannya, bahwa seperti dia itulah seharusnya sikap wanita ideal. Sikap mentalnya itu pulalah yang kelihatannya membuat dia lebih suka mencurahkan perhatiannya pada beberapa usaha yang kami rintis bersama
Mungkin karena dorongan seksualnya yang demikian, dia bukan hanya tidak peka terhadap suami, tetapi juga pada anak-anak. Praktis mereka menjadi anak-anakku saja, dan kurang peduli pada mamanya. Seolah-olah aku ini suami yang bertindak sebagai ibunya. 
Sejak anak-anakku lahir, aku curahkan habis perhatianku pada mereka, hingga akibatnya menjadi anak-anak yang menurut tetangga sering dibilang manja. Di tengah kesibukan di kantor dan kelola usaha aku berusaha membuat mereka senang dengan segala permainan yang mereka suka. 
Meski begitu aku selalu mencoba bertahan. Sempat juga sih, terpikir untuk selingkuh. Ada banyak kesempatan yang bisa kulakukan. Pekerjaan resmiku ada di luar kota, pegawaiku mayoritas perempuan, tapi selalu enggan aku melakukannya. Mungkin belum berani saja ya? Mantan pacarku yang dulu sempat punya hubungan paling intim denganku (untuk ukuran orang pacaran) adalah satu-satunya orang yang selalu mendukungku untuk bertahan. Dia bilang tak akan bangga lagi padaku bila aku main sama wanita komersial. Kalau aku mau, dia bahkan siap memberiku kehangatan yang aku butuhkan. Hanya saja, sekali lagi aku masih enggan melakukannya. 
Selain untuk memenuhi kebutuhan yang mengecewakan ini, sebenarnya aku sudah malas berurusan dengan perempuan. Aku tidak siap dengan resiko affair dengan wanita lain. Aku kuatir kena penyakit, hamil atau dia maksa minta dinikahin. Wah, pasti bikin susah. Orang yang paling aku khawatirkan justeru anak-anakku. Aku ingin mereka tetap bangga padaku seperti hari ini. Aku takut kehilangan kepercayaan mereka, karena di hatiku merekalah yang paling berharga buatku. 
Menikah bukan semata-mata urusan seksual, tapi juga menyangkut nama baikku dan keluarga. Aku hanya dapat tumpahkan keluh kesahku dalam berjilid-jilid buku harianku, hingga suatu hari saat aku sedang di luar kota, istriku membacanya satu persatu. Malam itu dia langsung telpon lama sekali sambil menangis sesenggukan. Dia tak henti meminta maaf atas keadaannya. Dia berjanji akan berubah. 
Benar saja, saat aku pulang dia benar-benar berusaha berubah, meski itu hanya untuk sekali waktu saja. Selebihnya dia masih tetap istriku selama ini. 

SURAT CINTA BUAT MAMA

Buat Mama Tersayang

Salam Sayang

Untuk kesekian kalinya papa ingin mama tahu kalau papa tidak puas dengan urusan seks di antara kita. Papa bahkan sering kagol berat. Makanya, papa sering ogah-ogahan meski kadang mama mau. Soalnya sering kali mama baru mau setelah papa terlanjur mangkel, jengkel dan kehilangan mood. Kalau sudah benar-bener nggak kuat aja kadang papa dengan terpaksa mencuri-curi masukin adik ke kamar mama, meski kadang mama marah-marah.

Buat papa, frekwensi hubungan seks kita itu terlalu sedikit, rata-rata cuma 1 sampai 2 kali sebulan, bahkan sering tidak sama sekali. Jarang sekali dalam sebulan kita melakukan sampai tiga kali atau lebih. Bahkan untuk ukuran pasangan normal jumlah itu terlalu sedikit, karena normalnya hubungan seks suami istri itu rata-rata 2 sampai 3 kali seminggu.

Padahal hampir setiap hari papa selalu didera keinginan itu. Hasrat seks papa itu mudah sekali muncul hampir setiap saat. Papa merasa libido papa cukup tinggi, tapi mama sama sekali tidak mau mengimbangi. Harap mama tahu, papa merasa sangat tertekan, karena terlalu sering ngempet, ngempet dan ngempet terus. Lagi pula, apa tidak aneh pria beristri harus sering ngempet keinginan?

Sebenarnya papa sudah malas membahas ini. Papa merasa membicarakan hal seperti ini sama mama akan sia-sia saja. Papa melihat mama menganggap ini bukan masalah dan tidak perlu dipermasalahkan. Ibarat orang sakit, mama tidak menganggap ini penyakit dalam rumah tangga kita. Mama menganggap hubungan seksual kita itu sudah wajar sebagaimana mestinya, padahal bagi papa sangat kurang. Bagi papa ini benar-benar sebuah beban yang membuat papa sangat tertekan.

Meski papa sebenarnya termasuk orang yang tidak setuju poligami apalagi perselingkuhan, tapi melihat pengalaman papa sendiri akhirnya papa bisa memahami mereka yang melakukannya karena alasan seperti yang papa alami. Meski begitu, papa tetap tidak ingin seperti itu, meski sebenarnya sangat mudah bagi papa untuk melakukannya. Papa masih yakin hubungan asmara, khususnya seksualitas kita masih dapat diperbaiki.

Yang papa inginkan,
pertama, papa ingin hubungan kita selalu hangat, mesra dan semakin mesra, meski papa tahu mama tak suka dengan romantis-romantisan. Paling tidak, ekspresi kasih sayang itu ada di antara kita dengan bahasa dan cara yang sama-sama kita mengerti.
Kedua
, kalau saja mungkin, papa pengen sekali istri papa mengimbangi kebutuhan papa. Kalau bisa sih, papa ingin dapat dengan mudah bercumbu, bermesraan dan berhubungan intim dengan mama di manapun dan kapanpun, meski papa tahu itu mustahil. Paling tidak, papa sangat berharap frekwensi hubungan kita lebih sering lagi. Ya... barang seminggu sekali, kukira sudah lumayan.Ketiga, mama tahu kan, kalau papa tak ingin melukai perasaan mama? Ya, papa sayang mama. dan akan selalu sayang mama. Asal mama mau kembali berusaha, papa tak akan melakukan sesuatu yang bisa menyakiti perasaan mama.

Selama sembilan tahun ini papa sudah berusaha mengerti dan menyesuaikan diri dengan
mood mama, meski mood itu hampir-hampir tak pernah ada tanpa sedikit kupaksakan. Kenyataannya mama kan tidak pernah mood, kecuali bila papa kasih obat perangsang. Papa menyadari ini sungguh tidak adil buat mama. Masa, sama istri sendiri kaya main sama korban perkosaan.

Masalahnya tinggal ada pada mama. Mama selalu merasa normal dengan semua ini, dan tidak memerlukan terapi apapun. Padahal beberapa dokter yang kita datangi sudah bilang, kalau mama ada masalah dengan yang satu itu. Papa tidak menyesali kondisi mama. Papa juga tidak berharap mama akan seperti kebanyakan wanita normal. Papa hanya berharap kembali mau mencoba, seperti beberapa waktu yang lalu, dan kenyataannya mama bisa, kan? Mama hebat sekali waktu itu.

Mama juga lihat video yang kita buat, kan? Mama bisa!! Mama hebat sekali!!! Papa sampai ketagihan, papa sudah tidak kuat lagi.

Mama hanya perlu belajar mengubah pola pikir dan cara pandang mama terhadap semua masalah, termasuk yang satu ini. Yang paling utama dalam hidup kita adalah kebahagiaan kita berdua dan anak-anak. Usaha, lembaga sosial dan semua yang kita miliki tak ada artinya bila kita sendiri tidak bahagia, dan mama sudah dengar sendiri dari banyak orang, termasuk teman dekat mama sendiri, bahwa seks adalah ekspresidari kasih sayang di antara kita.

Yang pasti, semua terserah pada mama. Apakah mama mau menghargai sikap papa atau mama tetap teguh pada pendirian mama. Yang pasti, semua selalu ada resikonya.

Salam sayang….

Love,


PAPA

AKU INGIN BERCINTA


Hasrat ini muncul lagi dan lagi, bikin perasaanku nggak tenang, suntuk seharian. Kenapa juga sih adik kecil ini nggak juga bobok? Padahal ada banyak kerjaan hari ini. Ayo dong adik kecil... bobok ya? Papa lagi banyak kerjaan, nih. Aduh... kok tambah menjadi-jadi, deh.Stop... stop... stop, ya. Kalau nakal terus, ntar diplester lagi sama papa. Jam tiga nanti papa mau presentasi, masa harus bicara dari belakang meja aja, kan nggak lucu?
Kadang aku benci dengan diriku sendiri, terutama untuk urusan yang satu ini. Tanpa diminta hasrat ini selalu saja datang dan datang lagi. Aku sudah banyak-banyakin rokok biar hasrat itu mereda, bila perlu biar impoten. Kantong sudah penuh kapur barus yang katanya bisa bikin adik nggak bangun-bangun, tapi nyatanya selalu saja dorongan itu datang tanpa diminta.
Ngomong sama istri juga percuma. Kami terlanjur bikin kesepakatan mengenai jatah mingguan. Kebetulan saja jatah minggu ini sudah habis. Aku bahkan tidak sempat memanfaatkannya. Aku biasa kehilangan mood dengan sistem seksual semacam ini, tapi apa boleh buat? Maksain sedikit bonus hanya bikin runyam suasana rumah saja.
Rasanya pengen sekali selingkuh dengan teman kantor, pegawai, mahasiswa atau mantan pacar, tapi selalu urung kulakukan. Entahlah, selalu saja ada rasa enggan melakukannya, meski sebenarnya mudah saja kualkukan.
Seks selalu menjadi keinginan yang sangat mengganggu. Aku selalu haus seks, aku selalu menginginkannya, tapi tak selalu ada. Punya istri seperti punya pacar saja. Selalu kepingin mesra-mesraan, tapi tak selalu dapat kesempatan. Istriku begitu lelah setelah seharian tak henti bekerja. 
Dia begitu bersemangat dengan tokonya, dengan sekolahan dengan semua hal yang ada di sini. Dia sama sekali tak mengerti kebutuhanku, selain sesekali mau melayani. Hubungan seks dengan istri semakin tidak menyenangkan. Semakin hilang gairah. Dia juga sama sekali tak peduli soal satu ini, jauh lebih parah dibanding saat-saat pertama aku masih bisa memaksanya dengan segala cara. 
Aku tidak puas, sungguh tidak puas dengan keadaan ini, tapi harus selalu berbohong kalau aku puas. Aku juga tak mau memaksakannya. Lagi pula seks secara paksa sering kali sangat mengecewakan. Lebih baik swalayan saja, sambil berhayal ke langit yang tinggi sekali. Kadang terpikir olehku untuk tidak melakukannya lagi dengannya. 
Beberapa kali aku menghindari hubungan seks, bahkan berhari-hari tanpa seks, tapi dia seperti tak merasa lain, tak peduli. Dia dan aku memang berbeda untuk urusan yang satu ini. Bagiku seks adalah kebutuhan dan kesenangan, tapi baginya hanya kwajiban, atau lebih jauh sedikit, tanda kerinduan. Masih untunglah ada yang merindukan.