Kamis, 05 Maret 2009

INGIN SELALU KERAMAS

Aku adalah pelanggan setia toko mbak Nur dan mas Yanto. Setiap kali persediaan rokokku habis, entah pagi, siang, sore, atau malam hari, aku pasti meluncur ke sana. Kebetulan hanya toko mereka yang jual rokok yang paling akrab denganku.

Sejak menikah aku memang jadi perokok berat. Padahal sebelumnya termasuk kelompok anti rokok. Mungkin kalau MUI haramkan rokok sebelum aku menikah, aku pasti jadi pendukung utamanya, tapi tidak kali ini. Karena fatwanya terlambat, ya tentu saja aku jadi penentang terberatnya.

Rokok boleh haram buat orang lain, tapi tidak buatku. Rokok telah terlanjur jadi sahabat setiaku, yang paling tahu perasaanku, yang selalu setia membelai relung dadaku, hatiku, perasaanku. Dalam sehari minimal aku perlu 2 bungkus hingga 4 bungkus. Boros memang, tidak sehat memang, tapi sulit sekali membayangkan hidup tanpa rokok.

Setiap kali ke toko mereka kadang aku hanya ketemu mbak Nur atau mas Yanto saja, tapi tidak jarang aku ketemu keduanya di tokonya yang tidak terbilang besar. Sebenarnya sih tidak ada yang istimewa dari keduanya ataupun tokonya. Mereka hanya pasangan suami-istri yang kira2 berusia 45 - 50 tahunan, dengan usaha bertani dan membuka toko kelontong kecil-kecilan.

Aku selalu melihat mereka begitu riang mengelola kios kecilnya bersama-sama. Sepertinya keluarga pas-pasan itu begitu harmonis. Anak-anaknya yang sudah beranjak remaja tampak jarang membantu mereka di toko, tapi mas Yanto tak segan2 membantu istrinya dengan suka rela, mulai dari kulakan bensin, melayani pembeli hingga bersih-bersih toko.

Yang aku heran, hampir setiap kali ke tokonya aku selalu mendapati mereka kelihatan habis keramas. Rambut keduanya basah atau kalaupun kering kalihatan kalau habis keramas. Tidak peduli ketemu pagi, siang, sore atau malam hari, aku selalu melihat mereka seperti habis "mandi besar".

Sebagai orang dewasa tentu saja aku berfikir, apakah yang kulihat itu karena mereka habis ML? Sebegitu seringkah? Pagi, sore, siang, malam? Apakah itu yang membuat mereka kelihatan harmonis? Bagaimana mereka bisa masih sebegitu mesra saat anak-anaknya sudah beranjak dewasa?
Saat kebetulan mampir ke tokonya bersama istriku, aku menggoda keduanya. "Wah... ini nggak pagi, nggak siang, nggak malam, keramas terus... Hayoo... habis ngapain" godaku.
Dengan tergelak mereka menimpali. "Ngapain lagi, masa nggak tahu?"

Rupanya keduanya paham pada sindiranku, dan seolah membenarkan apa yang jadi dugaanku selama ini.
"Ya pasti tahulah.... Kita juga ikut senang. Itu artinya harmonis" sahutku.
"Ya hidup mau apa lagi kalau nggak dinikmati, ya nggak, bu?" sahut mbak Nur sembari tertawa. Istriku hanya tersenyum kikuk.
"Kalau dinikmati sekarang kapan lagi, ya pak?" timpal suaminya.
Kami hanya tertawa tanpa sempat mengiyakan. Dalam hati aku membenarkan. Kita hanya hidup berapa tahun. Bahkan kupikir mestinya memang tidak ada waktu untuk menunggu dan menunggu menikmati hari-hari itu. Cuma persoalannya jalan hidup orang memang tidak sama.

"Sampeyan malah lebih enak, bu. Masih mudah, lebih sehat, dan punya segalanya" timpal istrinya kemudian.
"Punya apa? Sama saja. Yang penting cukup dan pada rukun aja, kan?" sahut istriku.
"Lho, kalau kita kan cuma hidup pas-pasan. Yang bisa dinikmati cuma itu, ya nikmati aja" timpal suaminya sembari disambut gelak tawa.

Sebelumnya aku memang sering cerita sama istri saol mbak Nur dan mas Yanto yang selalu keramas. Dia tidak percaya kalau itu karena mereka sering ML. Sampai di rumah aku bilang sama istriku. "Tuh... bener, kan kalau mereka memang sering keramas?"
"Alah..., kamu itu memang sembarangan aja kalau ngomong sama orang" sahutnya sengit.
"Tapi bener, kan?"
Dia hanya dia saja, lalu aku bilang padanya "Terus terang aku iri pada mereka. Mereka begitu menikmati kehidupan suami-istri, terlepas keadaan ekonominya seperti apa" Dia hanya tersenyum kecut dan
berusaha tidak begitu merespon.

Istriku memang tidak pernah berubah. Dia tetap seperti sebelumnya, dingin, kaku, dan gak interest untuk urusan yang satu itu, tanpa sedikitpun berubah. Hayalanku saja yang maksain aku bikin happy ending dengan happy moment semu, sekedar untuk menghibur diri. Demi nama baik , harmoni, dan anak-anak, cuma kesibukan, rokok, dan swalayan aja yang tetap jadi pelarian paling amanku
hingga detik ini.

Sering kali aku sudah patah arang, aku menyerah dan tak percaya perubahan itu kan terjadi. Aku percaya kata para ahli, kalau es kutub utara dan selatan mulai mencair karena pemanasan global, tapi aku tak percaya yang ini bisa mencair seabad lagi. Kalau yang beku air memang bisa cair, tapi kalau batu cuma bisa pecah aja...

Meski begitu, kadang aku berusaha sesekali. Kali ini akupun mencoba menggoda, "Ma, aku kok jadi pengen keramas, to"
"Ya sudah, sana. Sampo, sabun semua ada kok" sahutnya sembari nyelonong pergi.
"Nah, lho...????????"

Akupun cuma bisa bengong. Keramas aja? Ampun.... Maksudku kan bukan cuma keramas.... tapi sebelum keramas pengennya ya kaya mbak Nur dan mas Yanto itu.

Dasar nasib... nasib...

Senin, 16 Februari 2009

SURAT CINTA BUAT MAMA LAGI


Papa tidak tahu bagaimana harus bicara pada mama. Papa tahu, mama tidak pernah tertarik untuk membicarakan masalah ini. Setiap papa mencoba bicara, mama selalu menghindar, mengalihkan, menyangkal dengan berbagai alibi, tersinggung dan sering kali naik darah.
Kadang papa berfikir, mungkin seharusnya papa bicara sama orang lain saja, bukan sama mama.  Sebenarnya papa pesimis mama mau merespon secara positif, tapi papa ingin mencoba sekali lagi bicara, siapa tahu mama bersedia berbagi dan syukur-syukur berubah.
Terus terang, papa sangat tertekan dengan pola hidup dan kehidupan asmara kita selama ini.
PERTAMA: Sikap mama selalu penuh ketegangan yang membuat hidup kita terasa penuh tekanan. 
Papa menyaksikan mama selalu menyambut pagi dengan wajah tegang dan keluh kesah. Setelah itu, dengan wajah tegang pula buru-buru ke sekolah.
Sepanjang hari mama mondar-mandir seperti tak sabar, tak puas melihat kinerja semua pegawai. Sesekali mama keluar masuk rumah, melakukan ini dan itu dengan wajah tegang.
Sore hari, mama pulang ke rumah dalam keadaan kelelahan. Praktis hingga malam hari papa hanya melihat wajah cantik mama ber-make up kelelahan, tampak lusuh tanpa daya.
Wajah cantik dan tubuh molek yang sangat papa kagumi itu tergolek lemas tanpa daya, tanpa gairah. Itupun sering masih ditambah sikap BT kalau anak-anak kita kadang rewel.
Di mataku, mama adalah wanita tercantik dengan tubuh paling menggoda. Tapi gairahku selalu sirna melihat tubuh molek itu seolah tanpa jiwa. Ketertarikanku, hasratku dengan mudah pudar oleh sikap dingin yang seakan tak menyimpan gairah untuk bercinta dan menikmati hidup.
Papa tahu, mama merasa tidak ada yang salah dengan semua itu, tapi tidak demikian buat papa. Papa ingin hidup kita lebih mengasyikkan, penuh semangat, penuh gairah dan semua terasa indah.
KEDUA: Papa kian tidak nyaman dengan hubungan kita sebagai suami-istri yang semakin hari terasa kian tidak harmonis.
Papa sudah sering mengatakannya, tapi tidak pernah direspon mama, tetap saja tidak ada yang berubah. Papa merasa hubungan kita kian hambar dan tak bermakna.
Sudah sekitar 3 tahun kita pisah ranjang di usia pernikahan yang seharusnya memasuki masa-masa paling hangat. Kita kian jarang bercinta. Belum tentu seminggu, bahkan sebulan sekali kita bercinta, bahkan sekedar menghabiskan bercengkerama berdua.
Sepertinya mama menganggap kita masih baik-baik saja. Mama sepertinya merasa telah melayani kebutuhan papa lebih dari cukup. Mama tidak mau tahu bahwa papa merasa sebaliknya. Mama sama sekali tidak menganggap kita sedang bermasalah, apalagi berusaha memperbaikinya.
Buat papa ini sangat menyedihkan dan menyiksa. Rasanya seperti menikahi nenek cantik yang sudah menopouse, yang tak merasa butuh bercinta, yang hanya butuh dibantu dan ditemani.
Yang perlu mama tahu, punya 4 orang anak bukan ukuran bahwa kebutuhan sexual tercukupi. Agar mama hamil, kita hanya perlu satu kali hubungan sex saja. Sedang untuk memenuhi kebutuhan batin, yang kita lakukan selama ini jauh dari mencukupi.
Papa masih terlalu sehat untuk jalani kehidupan seperti ini. Papa haus kehangatan wanita dan menikmati hidup seperti pasangan seusia kita.
KETIGA: Bertahun-tahun papa mencoba mengerti kondisi mama. Papa berusaha menyukuri keadaan mama sebagai wanita istimewa, berbeda dari perempuan kebanyakan.
Mama adalah wanita yang “terlalu baik”, yang tidak mudah tergoda oleh hasrat sex. Mama “terlalu bersih”, sampai-sampai tidak memiliki fantasi romantis dalam bercinta yang mampu mewarnai kehidupan sexual kita.
Sebenarnya mama wanita normal, tapi hasrat, gairah dan sensitivitas mama telah dimatikan oleh pola pikir yang menganggap sex sebagai sesuatu yang memalukan, kurang penting dan bisa diabaikan. Mama bahkan kelihatan risih untuk sekedar membicarakannya.
Akibatnya, mama terlalu dingin dalam bercinta. Kehidupan sexual kita jadi sering terasa hambar, sering mengecewakan, kurang mengasyikkan, dan terlalu jarang.
Mama kehilangan sensitvitas bercinta, tidak mudah terangsang, tidak tanggap pada ajakan bercinta, dan hampir-hampir tidak pernah mengalami beratnya menahan hasrat yang menggebu.
Selalu butuh energi luar biasa untuk membuat mama siap bercinta. Satu-satunya saat di mana mama bergairah dan siap bercinta hanyalah saat mahkota mama dikulum papa.
Mama terlalu enggan untuk memahami kebutuhan papa sebagai laki-laki. Meski mama tahu papa sering bilang tidak puas, tapi mama seperti tidak peduli. Mama seperti sama sekali tidak bisa merasakan seperti apa dan seberapa berat apa beban batin yang papa alami. Mama tak pernah kelihatan menyesal atau merasa bersalah karena menolak ajakan bercinta.
Mama belum punya empati, hingga tidak bisa merasakan betapa berat rasanya menahan hasrat. Mama tidak tahu kan seberapa sering, kapan saja, di mana saja dan bagaimana saja cara bercinta yang papa butuhkan?
Mama kelihatan belum merasa butuh untuk memuaskan diri mama sendiri, apalagi memuaskan papa. Mama kelihatan belum benar-benar menikmati dan menganggap bercinta sebagai kebutuhan. Makanya, mama tidak pernah berinisiatif mengajak papa bercinta karena keinginan mama sendiri.
Sikap mama setiap bercinta masih kurang mengasyikkan, kaku, tidak luwes, seperti baru pertama kali melakukannya. Selain itu, selalu ada ribuan alasan, aturan, dan hal-hal yang mama khawatirkan setiap kali bercinta.
Seperti sejak awal menikah dulu. Mama biasa enggan bercinta hanya karena malu kelihatan habis keramas, ada banyak orang, korden terbuka dan sebagainya. Rasa malu, kuatir ini dan itu, serta berbagai hal terlalu mudah mengalahkan kebutuhan untuk bercinta.
Mama memang selalu bilang siap bercinta, tapi kenyataannya wajah mama yang kusut, ngantuk dan tidak bergairah itu sama sekali tidak mendukung yang mama ucapkan. Mama masih dengan mudah menolak, mendiamkan, bahkan menganggap aneh ajakan papa untuk bercinta.
Papa sering mencoba menggoda mama, tapi tidak ada respon berarti. Sepertinya yang papa goda cuma tubuh mama, sedangkan hati dan pikiran mama entah ada di mana.
Yang paling menjengkelkan, mama terlalu membatasi saat bercinta dengan waktu, tempat, keadaan dan aturan. Seolah mama tidak peka, tidak sadar bahwa sikap itu sangat mengecewakan dan membunuh gairah.
Mama sering bilang, “Cepetan, keburu ngantuk”, “jangan sekarang”, “jangan di sini”, “ini bukan bolliwood”. Mama seperti tidak tahu, bahwa itu artinya mama tidak membutuhkan. Kalaupun mama mau, mama hanya melayani papa, padahal papa tidak butuh pelayan. Papa butuh seseorang yang membutuhkan papa.
KEEMPAT:  Sejak menikah papa merasa kesulitan bicara dengan mama dari hati ke hati tentang masalah pribadi semacam ini.
Mama selalu bersikap reaktif setiap kali menanggapi pembicaraan. Mama biasanya langsung menolak, menentang balik apa yang papa bicarakan atau minimal diam saja. Ini membuat papa sering merasa kurang nyaman kalau bicara dengan mama.
Dengan sangat terpaksa papa sering memilih bicara dengan orang lain yang mau mendengar dan mengerti keluhan papa. Untung saja, sejauh ini belum terjadi apa-apa antara papa dan mereka.
Sering pula terbersit di pikiran papa untuk menyalurkan hasrat di luar sana, tapi sampai hari ini secara mental papa belum siap melakukannya. Kalau sudah benar-benar tak tahan, papa memilih masturbasi, sebuah kebiasaan yang justeru sering papa lakukan sejak menikah.
Tentu bukan ini yang papa inginkan. Papa ingin mama, bukan orang lain, bukan ilusi papa sendiri. Tapi kalau mama memang tak mungkin berubah, sepertinya ini satu-satunya pilihan.
KELIMA: Setelah menikah sekian lama, papa ingin kita bisa memperbaiki pola hidup dan kehidupan asmara kita selama ini.
Pertama, papa ingin wajah anggun mama tidak diselubungi dengan ketegangan demi ketegangan. Papa ingin melihat mama lebih rilex, penuh gairah dan menikmati hidup.
Papa tidak ingin melihat wajah kusut dan kelelahan itu. Papa tidak ingin berada di dekat tubuh indah tanpa jiwa.
Kedua, papa ingin mama memahami betapa selama ini papa merasa tersiksa oleh hasrat yang lebih banyak tertahan.
Papa ingin mama bersedia membicarakan dari hati ke hati, belajar memahami dan menerima kenyataan bahwa kebutuhan laki-laki seperti papa tidak seperti yang mama pikirkan.
Yang mama berikan pada papa selama ini masih jauh dari cukup. Gairah papa muncul sewaktu-waktu, sejak bangun tidur hingga tertidur kembali.
Papa selalu merasa sangat tertekan, suntuk, dan pikiran terasa buntu setiap kali hasrat itu muncul dan mama tak berminat menyapanya. Papa merasa sangat kecewa dan menderita setiap kali mama menolak dan tidak mempedulikannya.
Papa ingin bisa bercinta dengan mama setiap saat, tanpa batasan waktu, tempat atau keadaan. Bahkan saat mama menstruasi, papa berharap mama bisa bantu menyalurkan hasrat papa dengan semua cara yang mama bisa.
Papa tahu, tak mudah buat mama untuk berubah, tapi papa yakin mama bisa, mama cuma tidak biasa, dan belum bisa menganggapnya penting. Papa yakin mama tak keberatan untuk bicara, dan kita perbaiki kehidupan kita bersama-sama.

Minggu, 01 Februari 2009

MALAM PERTAMA ROKOK PERTAMA

Bagi pasangan normal, malam pertama pasti jadi saat2 paling ditunggu. Setelah pesta usai dan tamu2 telah berlalu, tentu saja saat bersejarah itu yang paling kutunggu, tetapi hari pernikahan serasa sama sekali tidak istimewa bagiku. 
Ada perasaan aneh, hampa dan serasa menyongsong hari-hari yang suram. Meski begitu, aku mencoba sekuat tenaga berfikir positif. Inilah hariku, hari istimewaku yang harus kunikmati sebagaimana seharusnya. Apapun alasanya, apapun latar belakang pernikahan ini, apapun yang dipikirkan istriku, hari ini aku mempunyai istri. Aku akan menikmati hari-hari indah bersamanya.
Selepas acara pernikahan siang itu, aku merasa suasana semakin aneh, karena istriku seperti berusaha menjauh dan menghindariku. Dia bahkan berusaha menghindarkan aku dari kawan-kawannya. Praktis, aku sama sekali tidak berbicara dengan mereka. Beberapa lama aku hanya di kamar, sementara dia entah di mana. Menjelang Maghrib aku mulai sedikit kesal, karena dia tidak juga masuk ke kamar pengantin. Segera saja keluar mencarinya dan ternyata sejak tadi dia berada di kamar sebelah.
Kulihat dia begitu asyik telepon seseorang dan tidak mempedulikanku. Setelah tahu kehadiranku diapun menghampiri, lalu mengejutkanku saat berkata, “Mas, kamu tidur di kamar sana aja ya, aku di sini?”
Dengan menahan rasa kesal akupun mendekatinya dan bilang padanya, “OK. Nggak apa-apa. Biar aku mau pulang saja”
“Lho, kenapa?” sahutnya terkejut.
“Aku nggak merasa sedang jadi pengantin” jawabku datar dan segera beranjak pergi. “Jangan… Mas…, jangan pergi”
Aku benar-benar kesal, dan segera beranjak ke kamar untuk mengemasi barang ke kopor. Beberapa saat kemudian dia masuk ke kamar bersama ibunya. “Mau ke mana, nak?” tanya ibu mertuaku.
“Saya pulang saja, bu”
“Lho, kenapa? Ya nggak enak dong kalau dilihat orang. Masa baru jadi pengantin kok pulang”
Aku terdiam sejenak. Dengan menahan kesal aku berusaha bicara sesopan mungkin pada wanita itu. “Kalau di sini saya yang merasa tidak enak. Masa istriku tidur di kamar sebelah dan saya di sini?”
Kontan ibu mertuaku terhenyak, dan balik marah-marah pada istriku, “Kamu ini bagaimana sih? ….. Harusnya kamu temani suamimu”
Istriku diam saja, kemudian ibu mertuaku menasehatiku, “Nak, tolong kalau ada apa-apa dibicarakan dulu, jangan terus pulang begitu”
“Saya sudah bicara tadi, tapi kayaknya ….” Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku. Aku kesal sekali.
Kembali mertuaku bilang sama istriku, “Sudah. Kamu harus di sini. Layani suamimu, ajak makan. Dari siang tadi sudah kamu ajak makan apa belum?”
Istriku hanya mengangguk.
“Nak, tolong sabar ya?” nasehatnya seraya pergi meninggalkan kami.
Aku tidak berkata-apa dan berhenti mengemasi barang-barang. Aku sendiri juga tidak enak kalau harus pulang di hari pernikahan. Aku tak bisa membayangkan apa yang yang harus kukatakan pada orang tuaku. Dengan dipenuhi rasa kesal, bingung dan perasaan yang tidak menentu, akhirnya aku memilih tidak berbuat apa-apa. Aku tetap tinggal, dan inilah awal kebodohanku.
Aku berusaha meredam kekesalanku. Aku mencoba tenang menghadapi sikap istriku yang memuakkan. Aku bahkan berusaha bersikap sebaik mungkin, Aku berusaha mendekat saat dia terus sibuk membersihkan kuku-kukunya dari cat. Aku mencoba membantunya membersihkan cat dari kuku jari tangan dan kakinya, tapi dia menolak. “Sudah, biar aku sendiri” pintanya.
“OK” tanggapku menyerah. Akupun merebahkan tubuhku di atas tempat tidur hingga waktu Maghrib tiba dan sholat berjama’ah. Sesudah itu, dia mengajakku makan di ruang makan.
Selesai makan, istriku pamit mau telepon temannya dari kamar sebelah. Lama sekali aku menunggu dan rasa kesal itu kembali menghantuiku. Aku merasa ini bukan hari indah pengantin baru seperti diceritakan banyak orang. Ini hari paling memuakkan dalam hidupku. 
Selama ini ada puluhan gadis yang dekat denganku, tak satupun bersikap begitu. Mereka menghormatiku, memujaku dan mengharapkanku. Sementara dia yang kumiliki justeru terasa melecehkanku.
Akupun keluar rumah dan membeli beberapa bungkus rokok. Inilah pertama kalinya dalam hidupku aku merokok. Sukses, beberapa batang mengepul dari mulutku, meski kadang harus disertai batuk-batuk. Merokok itu pahit rasanya, getir di mulut dan lidah, tapi tak segetir perasaanku malam itu.
Mungkin karena diingatkan ibunya, istriku menyusulku di halaman depan. “Mas, ayo masuk” pintanya.
Akupun mematikan rokokku dan beranjak ke kamar bersamanya. “Lho, mas merokok, ya?” tanyanya keheranan.
“Sebenarnya sih tidak”
“Kok merokok?”
Aku diam saja dan beranjak masuk kamar bersamanya. “Aku ganti baju dulu ya?” pintanya sembari beranjak keluar.
“Lho, ke mana?”
“Di kamar sebelah”
Meski merasa aneh, aku hanya mengangguk dan merebahkan tubuhku di tempat tidur. Dalam hati aku heran, “Kenapa dia harus ganti baju di kamar sebelah, tapi sudahlah… biar aja” Aku menenangkan hatiku sendiri.
Sesaat kemudian dia muncul di kamar dengan memakai baju tidur dengan pakaian bawahan model celana panjang. Dia membuka-buka almari seperti mencari sesuatu. Sesaat kemudian dia kembali duduk di meja rias. “Ayo sini, dong” Pintaku.
“Sebentar” jawabnya sembari membersihkan wajah dengan kapas dan cairan kosmetik. Akupun segera bangkit dan mendekatinya. Saat dia tengah asyik memberishkan wajah dengan kapas, tanpa permisi aku mencium pipi kirinya. Dia sama sekali tidak bereaksi, dan “Ih…”  sergahnya sembari menghindar saat aku bermaksud mencium untuk kedua kalinya.
“Ayo dong” pintaku kembali sembari memegang tangannya. Diapun akhirnya menurut kuajak ke tempat tidur.
Saat tubuh kami rebah di tempat tidur, akupun mendekat dan bermaksud merengkuhnya. “Mas… Jangan” Tiba-tiba dia menyergah sembari menepis tanganku.
“Kenapa?” tanyaku
“Kita  kan pengantin baru?” sambungku.
“Ya, tapi jangan sekarang” pintanya.
“Kenapa?”
“Aku belum siap”
“Memangnya kita mau ngapain?”
“Hm…” leguhnya menergah.
“Aku pengen peluk aja”
Dengan sedikit memaksa, akhirnya kupeluk juga perempuan itu. Terus terang tergoda juga, saat tanganku melingkari tubuhnya dan pahaku menindih pahanya. Dia menahan jemariku dan memeganginya erat-erat saat bermaksud menyentuh payudaranya, tapi membiarkanku menciumi pipinya.
Dingin dan sama sekali tak terasa istimewa menciumi perempuan tanpa reaksi apapun. Terus terang ini bukan pertama kalinya aku mencium wanita, dan aku tahu bagaimana biasanya reaksi pertama mereka.
Aku tak memikirkannya, karena kamipun akhirnya ngobrol banyak hal, cerita masa lalu, teman-temannya dan tidak terkecuali aku tanya sikapnya seharian tadi. Saat aku tanya sikapnya padaku sejak acara resepsi selesai diapun mulai menjelaskan. “Perasaanku nggak enak aja” jelasnya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Entahlah. Rasanya aku tidak siap sekamar dengan laki-laki”
“Kamu kan sudah pernah jalan sama cowok. Sudah lama ingin menikah, masa masih tidak siap?” tanyaku penuh selidik.
Sejenak dia terdiam. Kulihat matanya berkaca-kaca, seolah menahan sebuah beban perasaan yang tak mudah diungkapkan. “Mungkin itu pula sebabnya” dia berguman perlahan.
“Kamu nggak marah, kalau aku cerita?”
“Nggak. Kamu cerita saja”
Dia kembali diam sejenak. Setelah menghela nafas panjang dia melanjutkan ceritanya. “Tadi kami telepon. Dia sekarang sedang stress berat. Katanya dia sedih sekali karena aku menikah sama kamu. Sebenarnya kami memang belum rela mengakhiri hubungan kami, tapi apa boleh buat?” Segulir air mata mengembang di permukaan matanya, hingga meleleh di pipi.
Sejujurnya hatiku hancur sekali mendengar penjelasan itu, tapi aku mencoba tenang. Perlahan kuusap linangan air di wajahnya. Di satu sisi aku kasihan juga dengan wanita itu. Dia sungguh tidak beruntung harus menikah dengan orang yang tidak dia kasihi. Akupun mulai secara jelas menyesali pernikahanku.
Dia mengaku bersedia menerima tawaranku karena kesal pada  mantan pacarnya yang ternyata mencoba mendekati cewek lain. Meski kemudian usaha itu diurungkan, dia masih memendam rasa kesal itu kepadanya.
Sedemikian sedihnya dia mengingat kisah cintanya, membuat dia tak mampu lagi melanjutkan cerita. Akhirnya diapun menangis sejadi-jadinya. Aku hanya bisa memeluknya, menenangkannya dengan mengusap punggungnya perlahan.
Dalam hati akupun mencoba menenangkan perasaanku sendiri yang kecewa berat malam itu.
Aku mulai merasionalkan cara pandangku. “Masa bodoh dengan masa lalunya. Yang jelas, dia  istriku. Bersama dialah aku mesti habiskan sisa hidupku dengan berbagai masalahnya, terutama masa lalu dia dan kekasihnya, bahkan jalinan komunikasinya yang masih bertahan hingga saat ini.
Aku harus berfikir pragmatis saja. Malam ini aku tidur dengan perempuan. Malam ini malam pertamaku. Kunikmati saja semuanya. Siapa tahu ngobati pedihnya hatiku saat ini” pekikku dalam hati.
Beberapa lama setelah dia kembali tenang aku kembali memeluknya. Aku mulai fokuskan perhatianku pada perempuan itu. Dia masih menggoda di mataku, apalagi saat kembali memeluknya seperti tadi. Dia menyergah sembari menahan tanganku saat jemariku kembali bermaksud membuka kancing bajunya. “Mas,  jangan dulu, ya?” pintanya.
“Kenapa?” tanyaku.
Sejenak dia terdiam menahan perasaan. “Pokoknya jangan sekarang”
“Kapan lagi. Ini kan malam pertama kita, sayang?”
“Iya, tapi aku belum siap. Aku pikir mungkin satu atau dua bulan lagi aja”
“Hah…?” Pekiku lirih.
“Aku bener-bener belum siap. Maafkan aku, ya”
“OK” jawabku lemah. Perasaan kesal kembali memenuhi ruang hatiku. Segera saja aku beranjak bangkit, tapi dia memegangi tanganku sambil menyergah, “Mas… jangan!!”
Dia  mengira aku akan kembali berniat pulang. Diapun melepaskan tanganku saat aku bilang, “Aku cuma mau merokok saja”
Akupun keluar kamar dan menghisap batang demi batang rokok hingga pagi menjelang. Unik, Malam pertama bukan jadi malam mengasyikkan bersama lawan jenis, tetapi malam pertama bersama batang-batang rokok.

Minggu, 04 Januari 2009

HAMBAR

Waktu sudah menunjukkan pukul 24.00. Aku masih asyik ngenet di depan laptop. Tiba-tiba istriku keluar dari kamar anakku yang nomor dua. Dia berjalan ke ruang makan, membuka kulkas dan kulihat mengambil sebotol air minum. Setelah minum beberapa teguk air dan menutup kulkas kembali, dia berhenti sejenak di depanku.
“Nggak tidur, Pa” Sapanya.
“Belum ngantuk” jawabku singkat.
“Besok kan papa ngantor?”
“Iya…., Nggak bisa tidur mau ngapain?”
Sejenak dia hanya terdiam memperhatikan aku yang asyik mainkan keypad laptop. Sambil merangkul pundakku, dia berbisik perlahan, “Papa nggak pengen (hubungan), to?” tanyanya.
“Sebenarnya, sih. Kita kan sudah lama pisah ranjang” jawabku ringan.
“Ih… ngomongnya” dia menyergah sambil menguncang tubuhku.
“Emang begitu, kan?” timpalku ringan, dan sejenak kemudian dia berlalu dan kembali masuk ke kamar anakku.
Memang sudah dua tahun kami tidak tidur satu kamar, tidak satu ranjang. Dia lebih suka tidur di kamar depan bersama anak nomor dua. Sedangkan aku tidur sendirian di kamar utama. Semula memang karena alasan menemani anak yang waktu itu sedang sakit, tapi setelah sembuh sekalipun dia tetap memilih tidur di sana.
Tidak ada komitmen apapun di antara kami untuk pisah ranjang. Kami bahkan masih melakukan hubungan suami-istri sesekali. Beberapa hari yang lalu kami bahkan pernah melakukannya, meski aku sendiri nggak sampai selesai.
Bicara soal ini sudah tak kehitung lagi, tapi tetap saja, dia kelihatannya memang lebih nyaman tidur tidak denganku. Dia memang lebih suka menikmati tidurnya seperti seorang balita. Dia tidak suka terganggu saat tidur, disentuh, dipeluk, dibelai, diraba, apalagi sampai hubungan intim.
Rupanya dia tidak enak dengan omonganku tadi. Beberapa saat kemudian dia kembali keluar kamar dan mendekat ke meja kerjaku. “Pa, ayo dong tidur” Ajaknya.
Aku diam saja, hingga dia mengulang ajakannya beberapa kali.
“Katanya kepingin, Ayo…” Ajaknya lagi.
“Aku juga lagi kepingin, nih” lanjutnya.
Setelah beberapa kali ajakan dan setengah memaksa, akhirnya akupun menurut. Aku ikut saja saat dia menggandeng tanganku masuk ke kamar utama. Di kamar itu, dia langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Akupun merebahkan tubuhku di sampingnya dan mencoba memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian dia memiringkan tubuhnya menghadapku. “Kamu nggak kepingin, ya?” tanyanya sembari melingkarkan tangannya ke dadaku. Pahanya yang tersingkap menindih pahaku.
“Tadinya begitu” jawabku malas.
“Kenapa?”
“Nggak tahu. Malas aja”
“Kok begitu, sih?” tanyanya sembari meraba dada dan bagian sensitifku. Beberapa saat kemudian benda istimewaku itupun berdiri.
“Ayo” Ajaknya lagi, tapi aku diam saja. Diapun memiringkan tubuku menghadap tubuhnya, dan menempelkan bagian sensitifku pada miliknya.
“Ayo…, tekan, dong” pintanya, tapi aku diam saja.
Entahlah, malas sekali aku melakukannya. Aku benar-benar tidak tertarik, meski sudah di berada tepat di depan miliknya. Padahal selama ngenet tadi aku kepingin sekali melakukan ini. Aku bener-bener tergoda saat chatting dengan wanita yang mengaku tinggal di Jakarta tadi. Dia yang mengaku kesepian banyak cerita tentang hasratnya yang mudah meninggi, hingga kebiasaan seksualnya yang aktif semasa masih bersuami.
Kami sempat beberapa kali chatting asyik di internet. Aku percaya padanya, meski aku sama sekali tak mengenalnya. Dengan bebas aku suka sekali cerita tentang seks yang kuinginkan dan diapun begitu. Bahkan hasratku selalu seketika bangkit menggebu-gebu setiap kali mulai chatting dengannya. Apalagi bila dia mengaku sedang horny, menjelang dan sesudah haid. Dia mengaku sebenarnya termasuk wanita bergairah tinggi. Meski hanya lewat tulisan aku sendiri merasakan besarnya gairah wanita itu. Gairah yang selalu ingin kurasai, mengimbangi hasratku yang serasa persis dengan gairahnya.
“Ayo dong, sayang” pintanya lagi, tapi aku tak juga ingin bereaksi.
Diapun akhirnya menekan pinggulnya sendiri agar bagian itu menyatu, tapi tidak berhasil. Kurasakan bagian miliknya masih kering, hingga berkali-kali gagal masuk ke dalam. “Ih… Kering banget, ya” keluhnya.
“Sana ambil pelumas dulu” pintanya.
“Nggak usah ah. Malas” Jawabku melas.
Akhirnya diapun bangkit sendiri dan beranjak mengambil pelumas di kotak obat. Sesampai di tempat tidur, dia mengoles milikku dengan pelumas dari bagian pangkal hingga ujung. Diapun kembali merebahkan tubuhnya di sampingku dan menarik tubuhku hingga kami berhadap-hadapan. Dengan mudah milikku terbenam ke dalam lubang miliknya saat dia menekan pinggulnya. Sementara aku memegangi pantatnya yang terasa lembut di telapak tanganku.
Aneh. Sama sekali aku tidak merasakan apa-apa, meski dia terus-menerus menggerakkan pinggulnya hingga milikku keluar-masuk liang miliknya. Dia terus bergerak sesukanya, tapi aku sama sekali tak merasakan apa-apa.
Hambar. Vagina itu terasa hambar, tanpa rasa apapun. Tubuh itu dingin tanpa sedikitpun getaran. Tidak ada detak jantung yang berpacu. Tidak pula desah nafas yang memburu, tidak ada gairah yang menggebu. Bahkan cairan licin pertanda horny sekalipun tak keluar dari miliknya. Hambar. Hambar, tak berasa. “Nggak terasa to, sayang?” tanyanya sesaat setelah mengakhiri gerakan.
“Hmm…” Jawabku sembari mengangguk.
“Ayo dong, gerakkan. Kamu kok diam saja?”
“Nggak ah. Kamu sudah apa belum?” tanyaku
“Kenapa, sih? Tanyanya.
“Malas aja”
“Ya sudah. Kalau gitu masuk dari belakang aja, ya? Kamu kan sukanya begitu” Jawabnya sembari terus merayuku”
Diapun membalikkan tubuhnya membelakangiku. Pahanya menekuk ke depan.Akupun menempelkan milikku ke miliknya. “Bles…” Dengan mudah aku menekan masuk milikku ke miliknya. “Hmmm…” Diapun sedikit meleguh.
Lumayan. Sedikit lebih berasa. Aku memang suka masuk dari belakang. Aku suka sekali bila bagian depan tubuhku menyentuh pantatnya, tapi aku tetap saja malas menggerak-gerakkan pinggulku. Aku hanya terdiam menikmati sedikit rasa hangat dan lembut di beberapa bagian tubuhku, tapi tetap saja hambar, tak seberapa berasa.
Pantat dan paha itu memang terasa berisi. Aku suka rasanya yang lembut dan empuh. Cuma saja bagian tubuh terindahnya terasa dingin. Dingin, tiada berasa. Kenapa sih, sayang?” keluhnya tiba-tiba sembari menarik tangaku melingkari tubuhnya.
Aku diam saja, hingga dia kembali bertanya, “Kenapa sih?”
“Aku nggak ngerasakan apa-apa” jawabku.
“Kok bisa, sih?”
“Nggak tahu. Aku cuma bosan aja bercinta dengan boneka”
“Ih… ngawur. Masa orang dibilang boneka. Aku kan sudah gerak-gerak?”
Aku diam saja. “Sayang. Kenapa? Dia kembali mendesakku sembari mengguncang-guncang tubuhnya.
Akhirnya akupun mengeluh. “Kamu memang gerak-gerak, tapi kan nggak ada gairahnya apa-apa?”
“Gairah itu yang kaya apa?” tanyanya.
Aku terdiam sejenak sambil menghela nafas. “Kamu memang mau, tapi sebenarnya kan nggak pingin” jelasku.
“Terus aku harus bagaimana?”
“Nggak harus bagaimana-bagaimana. Udahan, nih” sergahku sembari melepaskan milikku dari liang miliknya.
Diapun bangkit terduduk. “Aku nggak tahu harus bagaimana. Bisaku ya memang begitu” ungkapnya sembari memijit-mijit lenganku. “Kamu nggak puas, ya?” lanjutnya, tapi aku enggan menjawab.
Dia terus memijit-mijit tubuhku, dan akupun memilih berusaha terlelap tidur. Aku berusaha hadirkan teman chattingku itu memenuhi angan-anganku. Aku ingin sekali bayangan wanita virtual itu akan kembali bangkitkan gairahku, memberi rasa jalinan asmara kami. Tapi sebagai sebuah sajian asmara, wanita di sisiku tetap saja hambar, tanpa rasa. Aku berusaha hayalkan kehangatannya wanita virtual itu hadir di tubuhnya, tapi tak bisa.