Senin, 30 Mei 2016

SUARAMU

Lega..... Ya, satu kata itulah yang mampu menggambarkan perasaanku setiap kali mendengar suaramu. Lembutnya nada suaramu selalu membuatku rindu, dan betah bicara berlama-lama denganku. 
Jelas kurasakan betapa kamu wanita cerdas dengan bahasa yang mudah dicerna. Bersamamu semua terasa begitu mudah dan sederhana. Ketenangan sikapmu mengingatkan aku pada sosok seorang ibu yang penuh kasih, tempatku merengek, merajuk, bermanja-manja dan menjalani hidup yang terasa mengalir santai penuh damai. Mendengar suaramu serasa mengulang kisah lalu, saat kita saling jatuh hati dan saling terbuai.
Tak kupungkiri segurat penyesalan yang dalam datang menyiksa. Rasanya tak terima belahan jiwaku tak lagi milikku, tapi mendengar suaramu membuat aku merasa masih milikmu dan kamu milikku. Kamu membuatku merasa tak sendiri dan aku tak mau kehilangan semua ini.
Kamu ditakdirkan menghuni hatiku dan memiliki jiwaku. Aelamanya kamu adalah kekasih sejatiku dan akupun berharap kamu mau. Aku berharap rasa ini abadi di hatiku dan hatimu, tanpa seorangpun mampu mengubah semua itu. 
Kutegaskan aku tetap bermimpi suatu hari, kamu akan kembali kumiliki, tanpa pernah kulepaskan lagi.

Kamis, 26 Mei 2016

TAK SEINDAH BERSAMAMU

Dik...,  Aku tahu kamu tak pernah percaya kalau pernikahanku benar-benar mengecewakan, tapi tidak apalah. Kamu pasti sulit mengerti keadaanku saat ini. Bahkan mungkin tidak seorangpun percaya bila aku mengatakan yang aku alami. Mungkin tak seorangpun percaya bila tidak mengalaminya sendiri.
Meski demikian, aku tetap ingin menceritakannya padamu. Aku tahu, dengan menceritakannya tidak dengan sendirinya beban ini terlepas dari jiwaku. Bagiku, tidak semua masalah dapat diselesaikan. Sebagian masalah kadang hanya dapat diterima apa adanya sebagai kenyataan hidup yang harus dihadapi.
Aku tetap menceritakan semua ini padamu, karena kamulah satu-satunya yang bisa membuat aku nyaman menceritakan semuanya. Setidaknya melalui cerita ini aku dapat sedikit melepaskan beban batin yang selama ini membebani batinku. 
Ya, kehidupan batinku (seksualku) sangat berbeda dari kamu. Hari-hariku teramat jauh berbeda dibanding saat-saat bersamamu. Bukan saja tidak memuaskan, tetapi juga sangat kurang.
Sebagai gambaran, aku hanya sekali melakukan hubungan intim selama satu bulan ini. Itupun tanpa foreplay sama sekali. Istriku tidak punya waktu untuk bercinta denganku, bahkan sekedar untuk bermesraan. Setiap saat hanya beban masalah dan keluh kesah keluar dari bibirnya. Begitu banyak ketegangan harus kuhadapi bersamanya.
Keadaan ini sangat berbeda dibanding saat aku bersamamu dulu. Aku selalu rindu dengan sikapmu yang selalu hangat dan membuatku nyaman. Aku kangen pada keterbukaan sikapmu, hingga kita dapat bercanda begitu lepas, berjalan ke mana saja, dan menikmati hidup apa adanya. Bersamamu semua begitu mudah dan indah. Kita bisa saling menggoda dan bercinta kapan saja dan di mana saja.
Bersama istriku aku tidak pernah menikmati hari-hari seindah itu. Memang, kadang-kadang aku bisa bercinta yang lumayan bergairah, tapi itu sangat jarang. Kalaupun terjadi biasanya setelah ada satu peristiwa yang sebenarnya menyedihkan. Bersamanya hidup terasa kaku, terlalu banyak batasan, dan kehampaan. Dia sering menolak karena malas keramas, terlalu gelap atau terlalu terang, masih sibuk atau masih banyak pikiran.
Seperti halnya terakhir kali aku berhubungan badan beberapa hari yang lalu. Aku melakukannya saat istriku tertidur. Sudah pasti tanpa obrolan bebas, tidak ada godaan panas, tidak foreplay, Mencium, meraba apalagi merangsangnya hanya akan membuatnya terbangun dan menolak ajakanku. 
Sesaat setelah memijit tubuhnya yang lelah hingga tertidur miring dengan kaki ditekuk ke depan, aku mengoleskan vigel, cairan pelumas ke ujung penisku, lalu perlahan-lahan aku tusukkan ke vaginanya. Ya, seperti itulah gaya bercinta yang paling sering kulakukan bersamanya. Dia sempat terbangun dan menolak, "Mas..., Aku masih capek...", tetapi aku tetap saja menekan pinggulku ke pantatnya dengan sedikit memaksa. Akhirnya dia diam saja dan membiarkan aku mengoyang-goyangkan pinggulku maju-mundur.
Beberapa saat aku mencoba menikmati vagina yang longgar, tidak berasa apa-apa, tanpa hasrat dan dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Jujur, rasanya sangat tidak nyaman berhubungan intim dengan posisi seperti itu, karena tidak enak untuk bergerak, tetapi tetap saja aku lakukan. Sejujurnya mengecewakan bercinta serasa dengan boneka yang pasif tanpa respon apa-apa. Rasanya seperti masturbasi dengan boneka. Itupun harus kuakhiri tanpa ejakulasi, karena istriku tidak nyaman dan merubah posisi badan. Seperti biasa, aku biarkan istriku melanjutkan tidur dan aku pindah ke kamar sebelah untuk masturbasi.
Sebagai lelaki normal, aku aku sangat tersiksa dengan keadaan ini. Aku harus menahan hasrat yang sangat jarang tersalurkan sebagaimana mestinya. Aku bahkan lebih banyak menyalurkan hasrat hanya dengan masturbasi. Entah mengapa aku bahkan lebih nyaman masturbasi dibanding hubungan intim dengan istriku. Aku merasa lebih menikmati pemuasan diriku sendiri dengan membayangkan wajahmu. Aku selalu teringat leguhan lembutmu saat kita larut dalam getaran rasa.
Aku selalu rindu suaramu memanggilku lirih, "Mas...." setiap kali ujung panah asmaraku menyentuh bibir cintamu, dan tatapan matamu yang sendu membuatku kian dalam larut dalam dirimu. Segurat rasa damai yang tiada tara memenuhi ruang jiwaku, sementara rasa geli yang begitu nikmat terasa mengurut menjepit lembut batang kemaluanku. Liang cintamu begitu nikmat, teramat berasa buatku dan selalu membuatku selalu rindu untuk kembali ke sana. 
Sekedar kamu tahu, punyamu sangat berbeda dari istriku yang terasa longgar dan tidak berasa apa-apa. Itu sebabnya aku sangat iri pada suamimu yang berhasil memilikimu selamanya. Aku iri dia menjadi lelaki paling beruntung bisa menikmati vagina ternikmat di dunia. Aku masih sangat jelas mengingat rasanya yang kenyal, hangat, licin, dan geli nikmat. Ingin sekali aku melihatnya kembali, menyentuhnya, mengulumnya, merasakannya.
Kamu begitu mengerti aku. Kamu sangat tahu yang terindah untuk dilakukan saat bercinta. Kamu begitu hangat dan membuatku selalu tergoda.
Beribu kali akan kukatakan padamu, aku menyesal sekali telah kehilangan kamu. Aku kangen kamu. Aku ingin kamu.

Selasa, 17 Mei 2016

Curhat: Tentang Aku dan Kamu

Entah harus berapa kali kuulangi, cerita yang sama dan berulang-ulang ini denganmu. Aku sudah bercerita banyak padamu soal kehidupan pribadiku. Mungkin saja kamu tidak percaya, atau meragukan ceritaku, tapi itulah yang terjadi padaku. Hanya kamu yang tahu ceritaku. Kamu satu-satunya orang yang membuatku berani dan nyaman menceritakan semuanya.
Ya, aku tidak puas dengan istriku. Mungkin memang tidak ada manusia yang sama di dunia ini, tapi aku tak menyangka pasangan hidupku sama sekali berbeda denganmu dalam semua hal.
Aku merasa hidupku begitu nyaman bersamamu. Semua terasa begitu indah dan penuh warna. Bersamamu hidupku terasa damai, begitu mudah, dan detik demi detik berlalu penuh gairah. Kamu pasti ingat, aku tak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan bersamamu tanpa mrengkuhmu, menyentuhmu, menciummu dan meluapkan semua rasaku.
16 tahun terakhir kehidupanku sangat jauh dari semua itu. Aku merasa sangat tertekan. Hidupku diliputi kekecewaan. Tidak ada ketidakpuasan batin seperti yang pernah kunikmati bersamamu, tapi aku memilih bertahan meski harus hidup dalam harmoni semu.
Aku merasa kamu sebenarnya juga sepertiku. Meski mungkin tak seberat bebanku, aku yakin kamu juga tak cukup bahagia tanpaku. Aku tahu kamu berusaha menikmati hidupmu, tapi satu yang tak mungkin kau pungkiri dariku, kamu mencintaiku seperti aku mencintaimu. Bahagiamu seharusnya bersamaku, seperti aku yang seharusnya bersamamu.
Tahu nggak? Sejak kembali dekat denganmu, jiwaku benar-benar terguncang tak menentu. Aku merasa berat sekali mengendalikan diriku, pikiranku, perasaanku, juga hasratku. Setiap saat hatiku, pikiranku selalu tertuju padamu. Berat sekali rasanya jauh darimu. Sehari saja tanpa sapaanmu, tanpa kabar darimu, serasa ada yang hilang dari hidupku.
Gelora hati ini teramat menggebu, ingin selalu dekat denganmu, bicara denganmu, bertemu kamu, menikmati kebersamaanku denganmu, mengulang cerita lalu. Aku sangat menginginkanmu, amat sangat menginginkanmu, menjadi milikku suatu waktu.
Aku pastikan, suatu hari aku akan membawamu, menghabiskan waktu bersamamu, merengkuhmu, hanya berdua denganmu. Aku tak peduli apapun namanya itu, kita harus kembali menyatu.

Tetap Berharap

Mendengar suaramu, begitu lega rasa hatiku
Serasa dekat, sedekat dahulu
Meski kau jauh dari pelukanku

Aku sadari selalu
Aku tak mungkin bisa benar-benar jauh darimu
Karena kau terlanjur memiliki jiwaku
Kau selalu dalam terukir di hatiku

Suatu waktu...
Saat kesempatan berpihak padaku dan padamu
Aku ingin kembali bertemu
Merengkuhmu seperti dulu
Meluapkan semua rasaku
Tanpa peduli siapa aku,
dan siapa kamu

Kuharap kau mau