Dik..., Aku tahu kamu tak pernah percaya kalau pernikahanku benar-benar mengecewakan, tapi tidak apalah. Kamu pasti sulit mengerti keadaanku saat ini. Bahkan mungkin tidak seorangpun percaya bila aku mengatakan yang aku alami. Mungkin tak seorangpun percaya bila tidak mengalaminya sendiri.
Meski demikian, aku tetap ingin menceritakannya padamu. Aku tahu, dengan menceritakannya tidak dengan sendirinya beban ini terlepas dari jiwaku. Bagiku, tidak semua masalah dapat diselesaikan. Sebagian masalah kadang hanya dapat diterima apa adanya sebagai kenyataan hidup yang harus dihadapi.
Aku tetap menceritakan semua ini padamu, karena kamulah satu-satunya yang bisa membuat aku nyaman menceritakan semuanya. Setidaknya melalui cerita ini aku dapat sedikit melepaskan beban batin yang selama ini membebani batinku.
Aku tetap menceritakan semua ini padamu, karena kamulah satu-satunya yang bisa membuat aku nyaman menceritakan semuanya. Setidaknya melalui cerita ini aku dapat sedikit melepaskan beban batin yang selama ini membebani batinku.
Ya, kehidupan batinku (seksualku) sangat berbeda dari kamu. Hari-hariku teramat jauh berbeda dibanding saat-saat bersamamu. Bukan saja tidak memuaskan, tetapi juga sangat kurang.
Sebagai gambaran, aku hanya sekali melakukan hubungan intim selama satu bulan ini. Itupun tanpa foreplay sama sekali. Istriku tidak punya waktu untuk bercinta denganku, bahkan sekedar untuk bermesraan. Setiap saat hanya beban masalah dan keluh kesah keluar dari bibirnya. Begitu banyak ketegangan harus kuhadapi bersamanya.
Keadaan ini sangat berbeda dibanding saat aku bersamamu dulu. Aku selalu rindu dengan sikapmu yang selalu hangat dan membuatku nyaman. Aku kangen pada keterbukaan sikapmu, hingga kita dapat bercanda begitu lepas, berjalan ke mana saja, dan menikmati hidup apa adanya. Bersamamu semua begitu mudah dan indah. Kita bisa saling menggoda dan bercinta kapan saja dan di mana saja.
Bersama istriku aku tidak pernah menikmati hari-hari seindah itu. Memang, kadang-kadang aku bisa bercinta yang lumayan bergairah, tapi itu sangat jarang. Kalaupun terjadi biasanya setelah ada satu peristiwa yang sebenarnya menyedihkan. Bersamanya hidup terasa kaku, terlalu banyak batasan, dan kehampaan. Dia sering menolak karena malas keramas, terlalu gelap atau terlalu terang, masih sibuk atau masih banyak pikiran.
Keadaan ini sangat berbeda dibanding saat aku bersamamu dulu. Aku selalu rindu dengan sikapmu yang selalu hangat dan membuatku nyaman. Aku kangen pada keterbukaan sikapmu, hingga kita dapat bercanda begitu lepas, berjalan ke mana saja, dan menikmati hidup apa adanya. Bersamamu semua begitu mudah dan indah. Kita bisa saling menggoda dan bercinta kapan saja dan di mana saja.
Bersama istriku aku tidak pernah menikmati hari-hari seindah itu. Memang, kadang-kadang aku bisa bercinta yang lumayan bergairah, tapi itu sangat jarang. Kalaupun terjadi biasanya setelah ada satu peristiwa yang sebenarnya menyedihkan. Bersamanya hidup terasa kaku, terlalu banyak batasan, dan kehampaan. Dia sering menolak karena malas keramas, terlalu gelap atau terlalu terang, masih sibuk atau masih banyak pikiran.
Seperti halnya terakhir kali aku berhubungan badan beberapa hari yang lalu. Aku melakukannya saat istriku tertidur. Sudah pasti tanpa obrolan bebas, tidak ada godaan panas, tidak foreplay, Mencium, meraba apalagi merangsangnya hanya akan membuatnya terbangun dan menolak ajakanku.
Sesaat setelah memijit tubuhnya yang lelah hingga tertidur miring dengan kaki ditekuk ke depan, aku mengoleskan vigel, cairan pelumas ke ujung penisku, lalu perlahan-lahan aku tusukkan ke vaginanya. Ya, seperti itulah gaya bercinta yang paling sering kulakukan bersamanya. Dia sempat terbangun dan menolak, "Mas..., Aku masih capek...", tetapi aku tetap saja menekan pinggulku ke pantatnya dengan sedikit memaksa. Akhirnya dia diam saja dan membiarkan aku mengoyang-goyangkan pinggulku maju-mundur.
Beberapa saat aku mencoba menikmati vagina yang longgar, tidak berasa apa-apa, tanpa hasrat dan dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Jujur, rasanya sangat tidak nyaman berhubungan intim dengan posisi seperti itu, karena tidak enak untuk bergerak, tetapi tetap saja aku lakukan. Sejujurnya mengecewakan bercinta serasa dengan boneka yang pasif tanpa respon apa-apa. Rasanya seperti masturbasi dengan boneka. Itupun harus kuakhiri tanpa ejakulasi, karena istriku tidak nyaman dan merubah posisi badan. Seperti biasa, aku biarkan istriku melanjutkan tidur dan aku pindah ke kamar sebelah untuk masturbasi.
Beberapa saat aku mencoba menikmati vagina yang longgar, tidak berasa apa-apa, tanpa hasrat dan dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Jujur, rasanya sangat tidak nyaman berhubungan intim dengan posisi seperti itu, karena tidak enak untuk bergerak, tetapi tetap saja aku lakukan. Sejujurnya mengecewakan bercinta serasa dengan boneka yang pasif tanpa respon apa-apa. Rasanya seperti masturbasi dengan boneka. Itupun harus kuakhiri tanpa ejakulasi, karena istriku tidak nyaman dan merubah posisi badan. Seperti biasa, aku biarkan istriku melanjutkan tidur dan aku pindah ke kamar sebelah untuk masturbasi.
Sebagai lelaki normal, aku aku sangat tersiksa dengan keadaan ini. Aku harus menahan hasrat yang sangat jarang tersalurkan sebagaimana mestinya. Aku bahkan lebih banyak menyalurkan hasrat hanya dengan masturbasi. Entah mengapa aku bahkan lebih nyaman masturbasi dibanding hubungan intim dengan istriku. Aku merasa lebih menikmati pemuasan diriku sendiri dengan membayangkan wajahmu. Aku selalu teringat leguhan lembutmu saat kita larut dalam getaran rasa.
Aku selalu rindu suaramu memanggilku lirih, "Mas...." setiap kali ujung panah asmaraku menyentuh bibir cintamu, dan tatapan matamu yang sendu membuatku kian dalam larut dalam dirimu. Segurat rasa damai yang tiada tara memenuhi ruang jiwaku, sementara rasa geli yang begitu nikmat terasa mengurut menjepit lembut batang kemaluanku. Liang cintamu begitu nikmat, teramat berasa buatku dan selalu membuatku selalu rindu untuk kembali ke sana.
Aku selalu rindu suaramu memanggilku lirih, "Mas...." setiap kali ujung panah asmaraku menyentuh bibir cintamu, dan tatapan matamu yang sendu membuatku kian dalam larut dalam dirimu. Segurat rasa damai yang tiada tara memenuhi ruang jiwaku, sementara rasa geli yang begitu nikmat terasa mengurut menjepit lembut batang kemaluanku. Liang cintamu begitu nikmat, teramat berasa buatku dan selalu membuatku selalu rindu untuk kembali ke sana.
Sekedar kamu tahu, punyamu sangat berbeda dari istriku yang terasa longgar dan tidak berasa apa-apa. Itu sebabnya aku sangat iri pada suamimu yang berhasil memilikimu selamanya. Aku iri dia menjadi lelaki paling beruntung bisa menikmati vagina ternikmat di dunia. Aku masih sangat jelas mengingat rasanya yang kenyal, hangat, licin, dan geli nikmat. Ingin sekali aku melihatnya kembali, menyentuhnya, mengulumnya, merasakannya.
Kamu begitu mengerti aku. Kamu sangat tahu yang terindah untuk dilakukan saat bercinta. Kamu begitu hangat dan membuatku selalu tergoda.
Beribu kali akan kukatakan padamu, aku menyesal sekali telah kehilangan kamu. Aku kangen kamu. Aku ingin kamu.
Beribu kali akan kukatakan padamu, aku menyesal sekali telah kehilangan kamu. Aku kangen kamu. Aku ingin kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar