Fasya adalah wanita paling istimewa dalam hidupku. Aku mengenalnya sejak SMA sementara dia sendiri waktu itu masih SMP. Terus terang aku sudah naksir dia sejak pertama bertemu, hanya saja waktu itu aku masih jauh untuk urusan cinta. Apalagi, teman dekatku, Bairi, sudah terang-terangan menyatakan naksir sama dia. Anehnya lagi, aku justeru sering diminta Bairi mengantarnya nemuin cewek itu di rumahnya dan sekolah.
Seiring waktu pikiranku tentang gadis itu kian redup. Apalagi sejak selesai kuliah aku harus berusaha keras meniti karier. Jalan hidup benar-benar tak dapat diduga. Saat aku justeru ketemu kembali dengan Fasya saat hijrah ke Jogja. Getar-getar perasaan yang lama hilang, seketika tumbuh kembali, tapi sayang ternyata aku terlalu minder untuk urusan perempuan.
Setelah ribuan kali mengumpulkan keberanian, akhirnya aku berani mendekati gadis itu. Saat aku tanya apakah dia sudah punya pacar, secara mengejutkan dia bilang sudah. Pupus sudah harapanku, tapi anehnya gadis itu justeru semakin dekat denganku.
Aku menikmati kedekatan itu, meski aku tahu tertutup sudah harapanku untuk memilikinya. Meski hanya dengan status teman, hubungan kami kian akrab. Aku bahkan berani mengajaknya nonton bioskop, berbagai pertunjukan atau sekedar bakar jagung di alun-alun selatan.
Aku berusaha tak pedulikan getar-getar perasaan yang sangat kuat mendera setiap kali dekat dengannya. Getaran itu semakin kuat saat nonton teater di Santikara, hingga rasanya aku tak ingin buru-buru pulang usai pertunjukan. Kami berputar-putar di kota tanpa tahu akan ke mana.
Aku benar-benar tak tahu akan membawanya ke mana hingga Fasya berbisi, "Kita ke Kaliurang saja, mas". Dengan gerak ragu aku menurutinya ke daerah yang belum pernah kukunjungi itu selama di Jogja. Di tengah perjalanan yang semakin gelap, tiba-tiba dia bilang "Kok gelap sekali, ya? Gimana kalau ke parang tritis saja?", dan tanpa banyak kata aku memutar haluan motorku ke selatan, menembus gelapnya jalanan masa itu.
Setelah setahun di Jogja aku juga sama sekali belum pernah ke pantai yang terkenal itu. Aku sama sekali tak tahu arah, kecuali sekedar mengikuti arahan Fasya.