Kamis, 04 Februari 2016

MASA LALUKU, MASA LALUMU

Aku merasa tersudut setiap kali kau ungkit kisah kegagalan kau dan aku untuk menyatu, Hatiku perih dan diliputi rasa bersalah, sebab bagaimanapun aku turut andil dalam kegagalan itu. 
Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya padamu. Aku hanya bisa bilang aku amat sangat menyesal telah kehilangan kamu. Aku tak pernah berhenti menyesali kehilangan ini. 
Seharusnya kamu milikku hingga akhir hayat nanti. Kebahagiaanku adalah saat-saat bersamamu. Hanya kamu wanita yang aku butuhkan. Hanya kamu yang benar-benar bisa mengerti aku.
Kisah kita masa itu memang bukan kisah biasa. Aku masuk ke kehidupanmu di saat yang tidak tepat, saat kau telah dimiliki oleh seseorang yang kau cintai, dan membuat hubungan itu terasa begitu rumit untuk dijalani.
Aku tak keberatan kamu menyalahkanku. Bagaimanapun saat itu kamu memang merasa aku tak mau denganmu, padahal aku tidak. Aku sangat menyayangimu, aku berharap memilikimu. Hanya saja, aku benar-benar bingung saat itu. Kamu bilang ingin bersamaku, tapi kamu sendiri tak juga mau lepas dari kekasihmu. 
Tahu nggak, sesungguhnya aku sangat terpukul saat akhirnya kau memilih jalanmu. Berhari, berbulan aku kelimpungan, menderita rasa kehilangan. Hatiku benar-benar hampa membayangkan kamu bahagia bersamanya. Aku benar-benar tak rela kamu bersamanya. 
Aku tak menyangka, bila ternyata kamu tak bahagia di awal perjalanan bersamanya. Aku heran mengapa perjalananmu sama denganku. Aku sendiri begitu menderita, jauh dari rasa bahagia, dan tak tahu harus bagaimana, sebab memang seharusnya kita bersama.
Sempat terfikir olehku untuk berlari kepadamu, merebutmu, dan merengkuhmu kembali sebagai milikku, tapi aku tak tahu bagaimana melakukan itu. Aku juga menderita sepertimu, karena seharusnya aku memilikimu dan kamu memiliki aku.
Aku tahu sulit buatmu memaafkanku. Sulit bagimu melupakan kebodohanku, seperti halnya aku yang tak henti menyesali kedunguanku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar