Senin, 01 Februari 2016

BAHAGIANYA BERTEMU KAMU LAGI

Hari minggu aku ada tugas ke daerah pinggiran kota, tidak terlalu jauh dari rumahku, sekitar 25 km. Sebenarnya surat tugas itu untuk hari Jumat dan Sabtu, tapi karena berbagai kesibukan aku baru berangkat hari minggu. 
Sejak pulang kantor Jumat kemarin aku terus saja kepikiran sama Fasya, wanita termanis yang begitu mengobsesiku hingga saat ini. Lama sekali aku ingin bertemu dengannya, tetapi selalu aku urungkan, karena aku sadar ini tak seharusnya kami lakukan sejak kami sudah sama-sama berumah tangga. 
Beberapa waktu lalu aku cuma bisa mengintip dari persembunyian saat ingin menatap senyumnya, tapi kali ini aku benar-benar tak sabar lagi ingin bertemu dengannya.
Hari ini aku benar-benar tak mampu lagi menahan hasrat itu. Lewat messenger aku sengaja mengabarkan bahwa aku akan berada di kotanya, yang jaraknya sekitar 85-an km dari lokasiku bertugas. Kali ini aku benar-benar berharap dapat berjumpa dengannya. 
Rupanya dia juga memendam hasrat yang sama. Dia bilang kalau semalam bermimpi bertemu aku di sebuah pusat perbelanjaan. Akupun meluncur dengan kecepatan di atas 90 Km/jam menuju ke kotanya. Hanya saja, aku tak tahu di mana seharusnya bertemu. 
Janjian di hotel di kota itu dia tidak berani, karena banyak kenalannya, di rumah makanpun rasanya begitu. Meski suaminya mungkin saja tidak tahu, tapi tetap saja kami kuatir ada kenalanku atau kolega dia yang tahu.
Karena bingung menentukan tempat bertemu, aku sempat meluncur di depan rumahnya. Hatiku bergetar hebat saat kendaraanku melaju perlahan di jalan itu, dan tiba-tiba dia menelpon. Dia menungguku di sebuah tempat perbelanjaan. 
Seketika akupun meluncur ke sana, dan kudapati dia sedang belanja ditemani seorang pelayan wanita. Hatiku berdesir keras saat dia menatapku sambil tersenyum. Ya, senyum manis yang dulu selalu membuaiku. 
Akupun mendekat dengan berjuta rasa yang dulu pernah ada. Rasanya ingin sekali merengkuhnya, memeluknya erat-erat, tapi banyaknya orang di sekelilingku membuatku hanya mampu menahan perasaan. Berkali-kali tanganku seakan hendak bergerak sendiri merengkuh pinggangnya, tapi beberapa kali pula berhasil kutahan.
Meski hanya bisa berbagi obrolan tak tentu arah, tapi aku sangat bahagia. Hariku terasa sempurna bersamanya. Rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya, memeluknya seerat-eratnya, tapi lagi-lagi keramaian membuatku hanya mampu menahan rasa.
Hari itu begitu indah, begitu sempurna. Satu-satunya kekurangan hari itu hanyalah karena dia bukan lagi milikku, tapi aku bahagia dia masih mencintaiku. 
Terima kasih sayangku.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar