Sabtu, 20 September 2014

BUAT MANTAN TERINDAH

Aku bahagia sekali, perasaan itu masih ada di hatimu, seindah rasa dihatiku. Getar-getar perasaan itu masih begitu kuat terasa setiap kali mendengar sapaanmu, celoteh dan tawa renyahmu.
Hariku terasa begitu indah penuh warna, saat kita tenggelam dalam canda, tawa, dan saling goda. Hasratku menggebu saat terkenang hari-hari yang kita nikmati di masa lalu. Jiwaku hanyut terbawa saat berbagi cerita tentang hari-hari duka dan hampa yang kujalani tanpamu. Rasanya ingin mencurahkan semua, meski tautan hati ini terlarang untukku dan untukmu.
Kerinduan terlarang begitu menghiburku dan akan selalu menjadi sisi terindah dalam hidupku.



Selasa, 24 Juni 2014

SUARA MANTAN PACAR

Mendengar suaramu terasa bergetar seluruh jiwa dan ragaku.
Desiran geli terasa menyusup hingga ujung kemaluanku.
Kenangan indah bersamamu terasa bangkit kembali,
serasa ingin kuulang kembali.

Sabtu, 03 Mei 2014

PENGOBAT JIWA RAGA

Berhari2 kulalui dengan hampa
Jiwaku kehilangan daya
Tubuhku serasa tak lagi bertulang,
Lemah, lunglai, mati rasa.
Pikiranku berhenti befungsi
Serasa darah tak lagi mengalir
Pandanganku muram durjana
Mata serasa berselimut jelaga.
Dunia serasa di penghujing jalannya
Rasaku terbenam di jurang menganga
Di kegelapan sunyi tanpa suara
Hidupku serasa berhenti tanpa asa
Tanpa aku tahu kenapa?

Aku mengira
Aku hanya sedang tak sehat saja.
Tapi....
Sejak suara khasmu menyapa,
Tiba2 mendung pembebal ubun2ku sirna
Ya, hilang begitu saja.
Jiwa ragaku kembali perkasa

Celotehmu yang jenaka,
Membuatku tak henti tertawa
Sikap polosmu yang menggoda,
Membuatku gemas tak terkira
Perhatian dan sanjungan di balik canda
Bumbungkan hatiku ke atas nirwana

Suaramu membuatku betah berlama2
Nyamankan berbagi dan terus bersama
Serasa tak ingin mengakhirinya.
Meski harus sembunyi di balik rahasia.
Meski harus berpura2
Sebab kuharus hapus dengan segera
hingga bersih semua jejaknya
hingga seakan tak pernah ada.
Hingga seakan tak terjadi apa2
Demi petaka asmara tak lagi menyapa.

Duhai sahabat lama,
Kau telah membuatku begitu berharga
Serasa mandi berjuita cahaya,
Kau bangkitkan kembali gairah jiwa
Yang hampir kering layu merana.

Terima kasih untuk semua
Kau buat semua terasa berbeda.
Tanpa kutahu mengapa,
Gejala2 flu masih mendera
Tapi sejak kemarin tak lagi terasa

Kamis, 17 Maret 2011

MALAM PERTAMA, ROKOK PERTAMA

Saat resepsi berakhir, hari pernikahanku terasa muram. Sejak resepsi selesai, kudapati istriku  sudah berganti pakaian di kamar lain. Dia sama sekali tak menemaniku, bahkan aku merasa dia selalu menghindar dariku. Aku lihat dia telepon lama sekali di kamar sebelah, dan aku tak berminat mengganggunya.
Sejak jam 1 siang hingga maghrib tiba, dia hampir-hampir tidak masuk kamar pengantin, dan membiarkan aku di sana sendirian. Kudengar mertuaku beberapa kali memintanya menemaniku, tetapi dia hanya saat sesekali saja masuk kamar. Itupun hanya sebentar, dan  sama sekali tidak menyapa atau bertanya apapun padaku. 
Hingga larut malam aku bahkan masih mengenakan kemeja yang kupakai saat resepsi. Dia sama sekali tak peduli, apalagi berusaha melayani. Seluruh pakaian gantiku  bahkan masih ada di dalam kopor hingga beberapa hari kemudian.
Meski kecewa, kali ini aku mencoba mengerti. Aku pikir, "Barangkali karena kami baru kembali kenal 2 bulan ini, mungkin saja dia masih merasa canggung untuk menemaniku"

Dia baru masuk kamar ketika maghrib tiba. Itupun setelah ortunya meminta dengan sedikit memaksa. Setelah berjama'ah, dia kembali keluar kamar lama sekali.  Sayup-sayup kudengar banyak orang di luar mengolok-oloknya karena tidak berada di kamar bersamaku. Mertua juga beberapa kali memintanya menemaniku, tapi dia seolah enggan bersamaku malam ini. Dia baru masuk ke kamar lagi setelah mertua memintanya untuk mengajakku makan malam. 
Tak banyak kata kami ucapkan selama makan. Praktis, masa pengantinku diliputi kebisuan. Dia juga tak menemani aku kembali ke kamar. Dia baru masuk ke kamar lagi setelah orang tuanya berkali-kali meminta.  
Begitu masuk kamar, dia hanya duduk di depan meja rias, membersihkan make up yang masih tersisa  di wajahnya. Meski awalnya menolak, dia bersedia kubantu membersihkan pewarna kuku di tangannya. Aku mencoba mengakrabkan diri dengan berbasa-basi. Hanya ada jawaban-jawaban singkat dari mulutnya yang membuat pembicaraan itu sama sekali tidak mengasyikkan, tapi aku pura-pura tak peduli.  
Aku terhenyak saat tiba-tiba dia berdiri dan berkata, "Mas, sampeyan istirahat dulu, ya?"
"Kamu mau ke mana?" tanyaku.
"Aku di kamar sebelah" jawabnya sembari melangkah keluar kamar.
Emosiku membumbung seketika, tapi masih dapat kutahan, "Oke, kalau begitu aku pulang saja" jawabku datar. 
Dia membalikkan badan, dan balik bertanya, "Lho, kenapa?"
"Kenapa? Pertanyaanmu aneh sekali?" tanyaku kembali. Akupun beranjak mengambil pakaianku yang masih berserakan di tempat tidur dan memasukkannya kembali ke dalam kopor. 
Dia hanya tercenung menatapku, dan tiba-tiba dia menahan tanganku,  "Mas, jangan pergi, dong", pintanya dengan mata sembab, tapi aku tak peduli. 
Berkali-kali dia mengulangi permintaannya hingga disertai tangisan, tapi aku terus saja mengemas koporku dan berniat pergi. Aku benar-benar muak dengan sikapnya. Aku sudah menyesali pernikahanku, dan sikap istriku kian memperparah penyesalanku.
Saat aku mulai melangkah keluar kamar, tangisnya kian menjadi-jadi. "Mas, jangan pergi" pintanya berulang-kali sembari memelukku, membuat langkahku tertahan. Aku hanya berdiri memaku beberapa lama. Aku bingung. Aku benar-benar muak dengan sikapnya, tapi tak tega melihatnya menangis. 
Beberapa saat kemudian akupun menyerah. Aku kembali meletakkan koporku dan merengkuhnya ke tempat tidur. Aku tak tahu mengapa dia harus menangis. Aku berusaha menenangkan, sampai tangisnya benar-benar reda. 
Saat tangisnya reda, dia kembali membuka koporku dan mengambilkan aku beberapa helai pakaian ganti. "Ganti pakaian dulu, aku ambilkan minum" pintanya seraya menyerahkan pakaian. 
Sesaat kemudian dia kembali keluar kamar. Dengan pikiran kosong aku kembali ganti pakaian. Selesai ganti pakaian, kurebahkan tubuhku di tempat tidur pengantin yang penuh hiasan itu. Aku tak tahu apa yang aku rasakan saat itu. Pikiranku benar-benar hampa. Sedih, marah, kecewa, kasihan, dan entah apa lagi beraduk dalam hatiku.
"Minum dulu, mas" pintanya sambil meletakkan segelas teh di meja rias. 
"Nanti saja" sahutku lemah.
Tanpa berkata apapun, diapun merebahkan tubuhnya di sampingku. Sedikitpun tak kulihat rasa canggung seperti yang sejak tadi kubayangkan. Kumiringkan tubuhku hingga aku bisa melihat wajahnya yang menatap kosong ke langit-langit kamar. Di lehernya yang putih, kulihat jelas urat lehernya berdenyut.
"Harusnya aku tak di sini malam ini" ucapku lirih. 
Dia menengok dan kembali merengkuhku tanpa berkata apa-apa.  Tanpa mampu kutahan lagi, air mata mengucur deras dari sudut mataku. Aku menangis. Aku menangis sedih, justeru di saat-saat aku seharusnya merasa paling berbahagia.
Saat isak tangisku mereda, aku kembali berkata, "Kalau kenyataannya kamu tidak suka, mungkin sebaiknya..."
"Mas..." sahutnya menghentikan kata-kataku.  Akupun terdiam membiarkan dia bicara.
"Aku nggak tahu harus bagaimana. Terus terang aku merasa belum siap berada di kamar ini bersama seorang lelaki yang baru aku kenal"  "Bukankah sejak kita ketemu, hampir setiap hari kita bicara lewat telepon?" sahutku.
"Iya, tapi..."
"Tadi kulihat kamu menangis saat telepon di kamar sebelah. Feelingku mengatakan, itu pasti dari dia (kekasihnya). Dan dari sikapmu seharian ini, kupikir seharusnya aku memang tidak di sini" 
"Mas... jangan ngomong begitu" ucapnya sembari menangis dan kembali merengkuhku.
Setelah tangisnya mereda aku mulai bercerita yang datar-datar saja tentang masa lalu dan banyak hal. Diapun cerita tentang masa-masa bersama kekasihnya. Dia bercerita seolah pacaran yang mereka lakukan sangat formal. "Aku paling tidak suka jalan berdua. Aku hanya jalan  sama dia kalau ada teman lainmenyertai" 
Sejujurnya aku tak percaya. Aku menangkap kesan dia sedang menutup-nutupi sesuatu. Aku bahkan menangkap masih ada segulir keangkuhan di hatinya yang menusuk harga diriku. Dengan nada bangga dia bilang, "... Kalau bukan karena sikap orang tuaku yang seperti itu, kamu pasti tidak menikah denganku" Dia seolah berfikir aku merasa beruntung telah menikahinya.
"Jujur sama, kamu bukan perempuan satu-satunya yang aku sukai. Kamu bahkan bukan pertama bagiku... Aku pernah dekat dengan orang lain. Aku  bahkan pernah berniat menikahi seseorang, tetapi karena orang tuanya tidak setuju, aku memilih mundur saja... Bagiku pernikahan itu menjemput masalah, karena kuyakin pasti ada banyak masalah setelah pernikahan. Karena itu, aku tak mau memulai masalah dengan masalah" Jelasku. 
Sekilas kulihat sorot matanya berbinar menatapku. Dia seolah setuju dengan kata-kataku. Aku sengaja bercerita terbuka tentang masa laluku. Aku mencoba memancing pembicaraan, agar dia lebih terbuka padaku.
Akhirnya, diapun berbicara lebih terbuka. Aku hanya diam mendengarkan, dan sama sekali tak menyanggahnya.
".... Sebenarnya aku memang tak membayangkan akan menikah dengan orang lain. Bagiku itu tak mungkin... Tadinya aku sudah bertekad apapun yang terjadi aku harus menikah dengannya, meski kamu tahu orang tuaku tak merestui. Aku sudah empat tahun lebih jalan bersamanya. Kami sudah terlalu dekat  untuk dapat dipisahkan... Hanya lelaki itu yang mungkin aku nikahi" kisahnya yang sesekali terhenti karena tak mampu menahan tangis sedih sembari memelukku.Aku membiarkannya kembali menangis dan menangis di sela ceritanya. Aku berharap dia lebih terbuka dan melepaskan segala beban batinnya. Aku hanya bisa mengusap punggungnya saat ceritanya terpenggal tangis kesedihan. Kemarahanku sama sekali sirna mendengar cerita demi ceritanya. Aku merasakan betapa berat kesedihan yang dia tanggung selama ini.
"... Sebenarnya aku tak ingin sejauh itu sebelum menikah, tapi terpaksa... Kami sempat kehilangan akal sehat, dan mengira itu satu-satunya jalan agar orang tuaku merestui... Aku sangat kecewa saat tahu dia mendekati perempuan lain... Dia sama sekali tak menghargai pengorbananku..." lanjutnya lagi sembari kembali menangis sesenggukan beberapa lama.
Pikiranku kosong seketika mendengarnya. Aku bingung, tak tahu harus bagaimana. Aku sedih dan kian kecewa, tapi juga merasa iba melihatnya. Aku merasakan betapa selama ini dia begitu menderita.
"Aku tahu kamu menyesal telah menikahiku..." sambungnya.  "Tapi aku sungguh tak mau kamu meninggalkan aku... Jangan tinggalkan aku, mas..." Pintanya di akhir cerita. Kembali dia meledakkan tangis sesenggukan sembari memelukku erat-erat.
Aku hanya berusaha menenangkannya sembari tak henti mengelus punggungnya. "Sudahlah.." ucapku menenangkannya. 
"Kamu menyesal ya menikahi aku?" ucapnya seteleh kami larut dalam keheningan beberapa saat. Dia mengulangi beberapa kali pertanyaan itu sambil menangis, tanpa kujawab. Beberapa lama aku hanya terdiam dalam kehampaan. Aku bingung. Pikiranku kosong. Aku tak tahu yang kurasakan saat itu.  
"Mas, kamu menyesal ya?" tanyanya lagi berulang kali sambil mengguncang-guncang tubuhku.
"Aku menyesal dengan sikapmu. Kamu yang tampak menyesal telah memilihku..." jelasku.
"Enggak, aku sama sekali tidak menyesal... Aku yang mencari kamu, bukan sebaliknya... Aku cuma takut, bingung... Aku takut kamu kecewa... Aku tak tahu harus bagaimana"  sahutnya menegaskan dan kembali menangis.
Setelah menghela nafas dalam-dalam, akupun melanjutkan. "... Aku tak peduli dengan masa lalu... Aku menikah untuk hari ini dan masa depan... Aku menikah karena butuh seseorang untuk berbagi... Tentu saja aku butuh dicintai, tapi aku lebih butuh komitmen kamu untuk mencintaiku" tegasku. Dia tampak begitu berbinar mendengar ucapanku, dan kembali memelukku erat-erat.
Kebekuan yang sejak resepsi tadi begitu mengganggu, kini mulai mencair. Kami mulai saling terbuka dan saling bercerita banyak hal, terutama tentang  masa lalu saat kami pernah bertemu. Rona ceria kini terpancar di wajahnya, tapi terus terang ada segumpal perasaan yang mengganjal batinku. Sejujurnya ada perasaan kecewa dan penyesalan yang sangat dalam di hatiku, tetapi aku berusaha menepisnya. Aku mencoba mengabaikannya, menyimpannya dalam-dalam di lubuk hatiku. 
Aku berusaha menikmati keadaan yang kini kuhadapi. Kupandangi tubuhnya yang lembut di hadapanku. Perlahan kucium pipinya yang basah oleh air mata, tapi dia tak bereaksi apapun. Dia juga hanya diam saat aku mulai menindihkan paha kananku di atas kedua pahanya yang berbalut celana tidur panjang. Dia hanya tersenyum saat perlahan kususupkan jemari tanganku di balik bajunya, dan menurut saja ketika kancing BH-nya kulepaskan.
Tanpa kusadari, kegundahan yang sedari tadi kurasakan telah berganti gairah. Sembari saling bercerita, jemariku bergetar lembut saat menyentuh payudaranya. Ada perasaan sedikit aneh, karena dia seperti tidak merasakan apa-apa. Feelingku merasakan bahwa ia seperti sudah biasa dengan semua itu, tapi kutepis jauh-jauh perasaan itu dari pikiranku. Aku tak mau peduli dengan semua itu. Aku hanya berfikir, saat ini dia milikku. 
Beberapa saat kemudian aku ingin menyusupkan jemariku di bagian bawah tubuhnya. Saat jemariku mulai menyusup ke balik celana tidurnya, tiba-tiba dia memegang erat tanganku. "Mas, jangan dulu" sergahnya.
"Kenapa?" tanyaku.
Sejenak dia terdiam. "Aku merasa belum siap. Tolong jangan sekarang" pintanya.
Akupun menarik kembali tanganku. Dia kembali menyergah ketika beberapa saat kemudian jemariku mencoba menyusup ke sana. "Mas, please... aku belum siap"
"Aku cuma ingin menyentuh saja"  sahutku.
"Please..., jangan sekarang. Aku belum siap" Pintanya menegaskan.
"Kenapa?"
"Aku nggak tahu, aku cuma merasa belum siap. Maaf, ya? Pleas..." Pintanya lagi sembari memelukku. Sedikit rasa kecewa menggelayuti hatiku. Beribu tanya hanya dapat kusimpan dalam-dalam. "Oke, nggak apa-apa. Mungkin kamu belum bisa melupakannya" jawabku mencoba tenang.
"Maafkan aku. Kami sudah empat tahun bersama. Bahkan masih kontak beberapa jam lalu. Sedangkan kamu, aku merasa baru mengernalmu saat ini. Kumohon kamu bisa mengerti" jelasnya.
"Oke. Aku mengerti" jawabku sembari melepaskan pelukan.
"Sebenarnya aku lelah sekali, aku capek, ngantuk... Sedari pagi aku hampir-hampir tak istirahat. Aku ingin tidur" Ucapnya beberapa saat kemudian.
"Kamu istirahat saja. Biar aku keluar dulu" jawabku.
"Ke mana?"
"Ke depan sebentar. Sepertinya di sana masih ada orang" jawabku.
Dia tidak menanggapi dan akupun bangkit keluar kamar.  
Akupun keluar dari kamar pengantin yang penuh bunga dan pernak-pernik yang memenuhi ruangan itu. Hari sudah menyongsong pagi. Di luar rumah keutemui pembantunya tengah duduk sambil merokok. Akupun memintanya membelikan sebungkus rokok. 
Meski sebelumnya tak pernah menyentuh barang itu, untuk pertama kalinya aku merokok. Pahit, getir, dan sedikit terbatuk-batuk kurasakan, tapi tak segetir perasaanku malam itu. Hingga fajar menyongsong, kepulan asap dari batang demi batang rokok seakan membantuku melepas kegundahaan yang masih bersemayam di dasar hati. Sejak saat itu pula aku punya kebiasaan baru, merokok. 

Rabu, 22 September 2010

HAMBAR

Waktu sudah menunjukkan pukul 24.00. Aku masih asyik ngenet di depan laptop. Tiba-tiba istriku keluar dari kamar anakku yang nomor dua. Dia berjalan ke ruang makan, membuka kulkas dan kulihat mengambil sebotol air minum. Setelah minum beberapa teguk air dan menutup kulkas kembali, dia berhenti sejenak di depanku.
“Nggak tidur, Pa” Sapanya.
“Belum ngantuk” jawabku singkat.
“Besok kan papa ngantor?”
“Iya…., Nggak bisa tidur mau ngapain?”
Sejenak dia hanya terdiam memperhatikan aku yang asyik mainkan keypad. Sambil merangkul pundakku, dia berbisik perlahan, “Papa nggak pengen (hubungan), to?” tanyanya.
“Sebenarnya, sih. Kita kan sudah lama pisah ranjang” jawabku ringan.
“Ih… ngomongnya” dia menyergah sambil menguncang tubuhku.
“Emang begitu, kan?” timpalku ringan, dan sejenak kemudian dia berlalu dan kembali masuk ke kamar anakku.
Memang sudah dua tahun kami tidak tidur satu kamar, tidak satu ranjang. Dia lebih suka tidur di kamar depan bersama anak nomor dua. Sedangkan aku tidur sendirian di kamar utama. Semula memang karena alasan menemani anak yang waktu itu sedang sakit, tapi setelah sembuh sekalipun dia tetap memilih tidur di sana.
Tidak ada komitmen apapun di antara kami untuk pisah ranjang. Kami bahkan masih melakukan hubungan suami-istri sesekali. Beberapa hari yang lalu kami bahkan pernah melakukannya, meski aku sendiri nggak sampai ”selesai”.
Bicara soal ini sudah tak kehitung lagi, tapi tetap saja, dia kelihatannya memang lebih nyaman tidur tidak denganku. Dia memang lebih suka menikmati tidurnya seperti seorang balita. Dia tidak suka terganggu saat tidur, disentuh, dipeluk, dibelai, diraba, apalagi sampai hubungan intim.
Rupanya dia tidak enak dengan omonganku tadi. Beberapa saat kemudian dia kembali keluar kamar dan mendekat ke meja kerjaku. “Pa, ayo dong tidur” Ajaknya.
Aku diam saja, hingga dia mengulang ajakannya beberapa kali.
“Katanya kepingin, Ayo…” Ajaknya lagi.
“Aku juga lagi kepingin, nih” lanjutnya.
Setelah beberapa kali ajakan dan setengah memaksa, akhirnya akupun menurut. Aku ikut saja saat dia menggandeng tanganku masuk ke kamar utama. Di kamar itu, dia langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Akupun merebahkan tubuhku di sampingnya dan mencoba memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian dia memiringkan tubuhnya menghadapku. “Kamu nggak kepingin, ya?” tanyanya sembari melingkarkan tangannya ke punggungku. Pahanya yang tersingkap menindih pahaku.
“Tadinya begitu” jawabku malas.
“Kenapa?”
“Nggak tahu. Malas aja”
“Kok begitu, sih?” tanyanya sembari meraba dada dan bagian sensitifku. Beberapa saat kemudian benda istimewaku itupun berdiri.
“Ayo” Ajaknya lagi, tapi aku diam saja.
Diapun memiringkan tubuku menghadap tubuhnya, dan menempelkan bagian sensitifku pada miliknya.
“Ayo…, tekan, dong” pintanya, tapi aku diam saja.
Entahlah, malas sekali aku melakukannya. Aku benar-benar tidak tertarik, meski milikku sudah di berada tepat di depan miliknya. Padahal selama ngenet tadi aku kepingin sekali melakukan ini. Aku bener-bener tergoda saat chatting dengan wanita yang mengaku tinggal di Jakarta tadi. Dia yang mengaku kesepian banyak cerita tentang hasratnya yang lagi tinggi, hingga kebiasaan seksualnya semasa masih bersuami.
Ya, kami memang beberapa kali chatting asyik di internet. Dengan bebas aku suka sekali cerita tentang seks yang kuinginkan dan diapun begitu. Seketika hasratku selalu bangkit menggebu-gebu setiap kali mulai chatting dengannya. Apalagi bila dia mengaku sedang horny, menjelang dan sesudah haid. Dia mengaku sebenarnya termasuk wanita bergairah tinggi. Aku percaya padanya, meski aku sama sekali tak mengenalnya. Meski hanya lewat tulisan terasa sekali besarnya gairah wanita itu.
“Ayo dong, sayang” pintanya lagi, tapi aku tak juga ingin bereaksi.
Diapun akhirnya menekan pinggulnya sendiri agar bagian itu menyatu, tapi tidak berhasil. Kurasakan bagian miliknya masih kering, hingga berkali-kali gagal masuk ke dalam. “Ih… Kering banget, ya” keluhnya.
“Sana ambil pelumas dulu” pintanya.
“Nggak usah ah. Malas” Jawabku melas.
Akhirnya diapun bangkit sendiri dan beranjak mengambil pelumas di kotak obat. Sesampai di tempat tidur, dia mengoles milikku dengan pelumas dari bagian pangkal hingga ujung. Diapun kembali merebahkan tubuhnya di sampingku dan menarik tubuhku hingga kami berhadap-hadapan. Dengan mudah milikku terbenam ke dalam lubang miliknya saat dia menekan pinggulnya. Sementara aku memegangi pantatnya yang terasa lembut di telapak tanganku.
Aneh. Sama sekali aku tidak merasakan apa-apa, meski dia terus-menerus menggerakkan pinggulnya hingga milikku keluar-masuk liang miliknya. Dia terus bergerak sesukanya, tapi aku sama sekali tak merasakan apa-apa.
Hambar. Vagina itu terasa hambar, tanpa rasa apapun. Tubuh itu dingin tanpa sedikitpun getaran. Tidak ada detak jantung yang berpacu. Tidak pula desah nafas yang memburu, tidak ada gairah yang menggebu. Bahkan cairan licin pertanda horny sekalipun tak keluar dari miliknya. Hambar. Hambar, tak berasa. “Nggak terasa to, sayang?” tanyanya sesaat setelah mengakhiri gerakan.
“Hmm…” Jawabku sembari mengangguk.
“Ayo dong, gerakkan. Kamu kok diam saja?”
“Nggak ah. Kamu sudah apa belum?” tanyaku
“Kenapa, sih? Tanyanya.
“Malas aja”
“Ya sudah. Kalau gitu masuk dari belakang aja, ya? Kamu kan sukanya begitu” Jawabnya sembari terus merayuku”
Diapun membalikkan tubuhnya membelakangiku. Pahanya menekuk ke depan.Akupun menempelkan milikku ke miliknya. “Bles…” Dengan mudah aku menekan masuk milikku ke miliknya. “Hmmm…” Diapun sedikit meleguh.
Lumayan. Sedikit lebih berasa. Aku memang suka masuk dari belakang. Aku suka sekali bila bagian depan tubuhku menyentuh pantatnya, tapi aku tetap saja malas menggerak-gerakkan pinggulku. Aku hanya terdiam menikmati sedikit rasa hangat dan lembut di beberapa bagian tubuhku, tapi tetap saja hambar, tak seberapa berasa. “Kenapa sih, sayang?” keluhnya tiba-tiba sembari menarik tangaku melingkari tubuhnya.
Aku diam saja, hingga dia kembali bertanya, “Kenapa sih?”
“Aku nggak ngerasakan apa-apa” jawabku. 
“Kok bisa, sih?”
“Nggak tahu. Aku cuma bosan aja bercinta dengan boneka”
“Ih… ngawur. Masa orang dibilang boneka. Aku kan sudah gerak-gerak?”
Aku diam saja. “Sayang. Kenapa? Dia kembali mendesakku sembari mengguncang-guncang tubuhku.
Akhirnya akupun mengeluh. “Kamu memang gerak-gerak, tapi kan nggak ada gairahnya apa-apa?”
“Gairah itu yang kaya apa?” tanyanya.
Aku terdiam sejenak sambil menghela nafas. “Kamu memang mau, tapi sebenarnya kan nggak pingin”  jelasku.
“Terus aku harus bagaimana?”
“Nggak harus bagaimana-bagaimana. Udahan, nih” sergahku sembari melepaskan milikku dari liang miliknya.
Diapun bangkit terduduk. “Aku nggak tahu harus bagaimana. Bisaku ya memang begitu” ungkapnya sembari memijit-mijit lenganku. “Kamu nggak puas, ya?” lanjutnya, tapi aku enggan menjawab.
Dia terus memijit-mijit tubuhku, dan akupun memilih berusaha terlelap tidur. Aku berusaha hadirkan teman chattingku itu memenuhi angan-anganku. Aku berharap bayangan wanita virtual itu akan kembali bangkitkan gairahku, memberi rasa jalinan asmara kami. Sebagai sebuah sajian, wanita di sisiku tetap saja hambar, tanpa rasa. Aku berusaha hayalkan kehangatannya wanita virtual itu hadir di tubuhnya, tapi aku tak bisa. 

SURAT CINTA UNTUK NENEK CANTIK

Papa tidak tahu bagaimana harus bicara pada mama. Papa tahu, mama tidak pernah tertarik untuk membicarakan masalah ini. Setiap papa mencoba bicara, mama selalu menghindar, mengalihkan, menyangkal dengan berbagai alibi, tersinggung dan sering kali naik darah.
Kadang papa berfikir, mungkin seharusnya papa bicara sama orang lain saja, bukan sama mama.  Sebenarnya papa pesimis mama mau merespon secara positif, tapi papa ingin mencoba sekali lagi bicara, siapa tahu mama bersedia berbagi dan syukur-syukur berubah.
Terus terang, papa sangat tertekan dengan pola hidup dan kehidupan asmara kita selama ini.
PERTAMA: Sikap mama selalu penuh ketegangan yang membuat hidup kita terasa penuh tekanan. 
Papa menyaksikan mama selalu menyambut pagi dengan wajah tegang dan keluh kesah. Setelah itu, dengan wajah tegang pula buru-buru ke sekolah.
Sepanjang hari mama mondar-mandir seperti tak sabar, tak puas melihat kinerja semua pegawai. Sesekali mama keluar masuk rumah, melakukan ini dan itu dengan wajah tegang.
Sore hari, mama pulang ke rumah dalam keadaan kelelahan. Praktis hingga malam hari  papa hanya melihat wajah cantik mama ber-make up kelelahan, tampak lusuh tanpa daya.
Wajah cantik dan tubuh molek yang sangat papa kagumi itu tergolek lemas tanpa daya, tanpa gairah. Itupun sering masih ditambah sikap BT kalau anak-anak kita kadang rewel.
Di mataku, mama adalah wanita tercantik dengan tubuh paling menggoda. Tapi gairahku selalu sirna melihat tubuh molek itu seolah tanpa jiwa. Ketertarikanku, hasratku dengan mudah pudar oleh sikap dingin yang seakan tak menyimpan gairah untuk bercinta dan menikmati hidup.
Papa tahu, mama merasa tidak ada yang salah dengan semua itu, tapi tidak demikian buat papa. Papa ingin hidup kita lebih mengasyikkan, penuh semangat, penuh gairah dan semua terasa indah.
KEDUA: Papa kian tidak nyaman dengan hubungan kita sebagai suami-istri yang semakin hari terasa kian tidak harmonis.
Papa sudah sering mengatakannya, tapi tidak pernah direspon mama, tetap saja tidak ada yang berubah. Papa merasa hubungan kita kian hambar dan tak bermakna.
Sudah sekitar 3 tahun kita pisah ranjang di usia pernikahan yang seharusnya memasuki masa-masa paling hangat. Kita kian jarang bercinta. Belum tentu seminggu, bahkan sebulan sekali kita bercinta, bahkan sekedar menghabiskan bercengkerama berdua.
Sepertinya mama menganggap kita masih baik-baik saja. Mama sepertinya merasa telah melayani kebutuhan papa lebih dari cukup. Mama tidak mau tahu bahwa papa merasa sebaliknya. Mama sama sekali tidak menganggap kita sedang bermasalah, apalagi berusaha memperbaikinya.
Buat papa ini sangat menyedihkan dan menyiksa. Rasanya seperti menikahi nenek cantik yang sudah menopouse, yang tak merasa butuh bercinta, yang hanya butuh dibantu dan ditemani.
Yang perlu mama tahu, punya 4 orang anak bukan ukuran bahwa kebutuhan sexual tercukupi. Agar mama hamil, kita hanya perlu satu kali hubungan sex saja. Sedang untuk memenuhi kebutuhan batin, yang kita lakukan selama ini jauh dari mencukupi.
Papa masih terlalu sehat untuk jalani kehidupan seperti ini. Papa haus kehangatan wanita dan menikmati hidup seperti pasangan seusia kita.
KETIGA: Bertahun-tahun papa mencoba mengerti kondisi mama. Papa berusaha menyukuri keadaan mama sebagai wanita istimewa, berbeda dari perempuan kebanyakan.
Mama adalah wanita yang “terlalu baik”, yang tidak mudah tergoda oleh hasrat sex. Mama “terlalu bersih”, sampai-sampai tidak memiliki fantasi romantis dalam bercinta yang mampu mewarnai kehidupan sexual kita.
Sebenarnya mama wanita normal, tapi hasrat, gairah dan sensitivitas mama telah dimatikan oleh pola pikir yang menganggap sex sebagai sesuatu yang memalukan, kurang penting dan bisa diabaikan. Mama bahkan kelihatan risih untuk sekedar membicarakannya.
Akibatnya, mama terlalu dingin dalam bercinta. Kehidupan sexual kita jadi sering terasa hambar, sering mengecewakan, kurang mengasyikkan, dan terlalu jarang.  
Mama kehilangan sensitvitas bercinta, tidak mudah terangsang, tidak tanggap pada ajakan bercinta, dan hampir-hampir tidak pernah mengalami beratnya menahan hasrat yang menggebu.
Selalu butuh energi luar biasa untuk membuat mama siap bercinta. Satu-satunya saat di mana mama bergairah dan siap bercinta hanyalah saat mahkota mama dikulum papa.
Mama terlalu enggan untuk memahami kebutuhan papa sebagai laki-laki. Meski mama tahu papa sering bilang tidak puas, tapi mama seperti tidak peduli. Mama seperti sama sekali tidak bisa merasakan seperti apa dan seberapa berat apa beban batin yang papa alami. Mama tak pernah kelihatan menyesal atau merasa bersalah karena menolak ajakan bercinta.  
Mama belum punya empati, hingga tidak bisa merasakan betapa berat rasanya menahan hasrat. Mama tidak tahu kan seberapa sering, kapan saja, di mana saja dan bagaimana saja cara bercinta yang papa butuhkan?
Mama kelihatan belum merasa butuh untuk memuaskan diri mama sendiri, apalagi memuaskan papa. Mama kelihatan belum benar-benar menikmati dan menganggap bercinta sebagai kebutuhan. Makanya, mama tidak pernah berinisiatif mengajak papa bercinta karena keinginan mama sendiri.
Sikap mama setiap bercinta masih kurang mengasyikkan, kaku, tidak luwes, seperti baru pertama kali melakukannya. Selain itu, selalu ada ribuan alasan, aturan, dan hal-hal yang mama khawatirkan setiap kali bercinta.
Seperti sejak awal menikah dulu. Mama biasa enggan bercinta hanya karena malu kelihatan habis keramas, ada banyak orang, korden terbuka dan sebagainya. Rasa malu, kuatir ini dan itu, serta berbagai hal terlalu mudah mengalahkan kebutuhan untuk bercinta.
Mama memang selalu bilang siap bercinta, tapi kenyataannya wajah mama yang kusut, ngantuk dan tidak bergairah itu sama sekali tidak mendukung yang mama ucapkan. Mama masih dengan mudah menolak, mendiamkan, bahkan menganggap aneh ajakan papa untuk bercinta.
Papa sering mencoba menggoda mama, tapi tidak ada respon berarti. Sepertinya yang papa goda cuma tubuh mama, sedangkan hati dan pikiran mama entah ada di mana.
Yang paling menjengkelkan, mama terlalu membatasi saat bercinta dengan waktu, tempat, keadaan dan aturan. Seolah mama tidak peka, tidak sadar bahwa sikap itu sangat mengecewakan dan membunuh gairah.
Mama sering bilang, “Cepetan, keburu ngantuk”, “jangan sekarang”, “jangan di sini”, “ini bukan bolliwood”. Mama seperti tidak tahu, bahwa itu artinya mama tidak membutuhkan. Kalaupun mama mau, mama hanya melayani papa, padahal papa tidak butuh pelayan. Papa butuh seseorang yang membutuhkan papa. 
KEEMPAT:  Sejak menikah papa merasa kesulitan bicara dengan mama dari hati ke hati tentang masalah pribadi semacam ini.
Mama selalu bersikap reaktif setiap kali menanggapi pembicaraan. Mama biasanya langsung menolak, menentang balik apa yang papa bicarakan atau minimal diam saja. Ini membuat papa sering merasa kurang nyaman kalau bicara dengan mama.
Dengan sangat terpaksa papa sering memilih bicara dengan orang lain yang mau mendengar dan mengerti keluhan papa. Untung saja, sejauh ini belum terjadi apa-apa antara papa dan mereka.
Sering pula terbersit di pikiran papa untuk menyalurkan hasrat di luar sana, tapi sampai hari ini secara mental papa belum siap melakukannya. Kalau sudah benar-benar tak tahan, papa memilih masturbasi, sebuah kebiasaan yang justeru sering papa lakukan sejak menikah.
Tentu bukan ini yang papa inginkan. Papa ingin mama, bukan orang lain, bukan ilusi papa sendiri. Tapi kalau mama memang tak mungkin berubah, sepertinya ini satu-satunya pilihan.
KELIMA: Setelah menikah sekian lama, papa ingin kita bisa memperbaiki pola hidup dan kehidupan asmara kita selama ini.
Pertama, papa ingin wajah anggun mama tidak diselubungi dengan ketegangan demi ketegangan. Papa ingin melihat mama lebih rilex, penuh gairah dan menikmati hidup.
Papa tidak ingin melihat wajah kusut dan kelelahan itu. Papa tidak ingin berada di dekat tubuh indah tanpa jiwa.
Kedua, papa ingin mama memahami betapa selama ini papa merasa tersiksa oleh hasrat yang lebih banyak tertahan.
Papa ingin mama bersedia membicarakan dari hati ke hati, belajar memahami dan menerima kenyataan bahwa kebutuhan laki-laki seperti papa tidak seperti yang mama pikirkan.
Yang mama berikan pada papa selama ini masih jauh dari cukup. Gairah papa muncul sewaktu-waktu, sejak bangun tidur hingga tertidur kembali.
Papa selalu merasa sangat tertekan, suntuk, dan pikiran terasa buntu setiap kali hasrat itu muncul dan mama tak berminat menyapanya. Papa merasa sangat kecewa dan menderita setiap kali mama menolak dan tidak mempedulikannya.  
Papa ingin bisa bercinta dengan mama setiap saat, tanpa batasan waktu, tempat atau keadaan. Bahkan saat mama menstruasi, papa berharap mama bisa bantu menyalurkan hasrat papa dengan semua cara yang mama bisa.
Papa tahu, tak mudah buat mama untuk berubah, tapi papa yakin mama bisa, mama cuma tidak biasa, dan belum bisa menganggapnya penting. Papa yakin mama tak keberatan untuk bicara, dan kita perbaiki kehidupan kita bersama-sama. 

Kamis, 05 Maret 2009

INGIN SELALU KERAMAS

Aku adalah pelanggan setia toko mbak Nur dan mas Yanto. Setiap kali persediaan rokokku habis, entah pagi, siang, sore, atau malam hari, aku pasti meluncur ke sana. Kebetulan hanya toko mereka yang jual rokok yang paling akrab denganku.

Sejak menikah aku memang jadi perokok berat. Padahal sebelumnya termasuk kelompok anti rokok. Mungkin kalau MUI haramkan rokok sebelum aku menikah, aku pasti jadi pendukung utamanya, tapi tidak kali ini. Karena fatwanya terlambat, ya tentu saja aku jadi penentang terberatnya.

Rokok boleh haram buat orang lain, tapi tidak buatku. Rokok telah terlanjur jadi sahabat setiaku, yang paling tahu perasaanku, yang selalu setia membelai relung dadaku, hatiku, perasaanku. Dalam sehari minimal aku perlu 2 bungkus hingga 4 bungkus. Boros memang, tidak sehat memang, tapi sulit sekali membayangkan hidup tanpa rokok.

Setiap kali ke toko mereka kadang aku hanya ketemu mbak Nur atau mas Yanto saja, tapi tidak jarang aku ketemu keduanya di tokonya yang tidak terbilang besar. Sebenarnya sih tidak ada yang istimewa dari keduanya ataupun tokonya. Mereka hanya pasangan suami-istri yang kira2 berusia 45 - 50 tahunan, dengan usaha bertani dan membuka toko kelontong kecil-kecilan.

Aku selalu melihat mereka begitu riang mengelola kios kecilnya bersama-sama. Sepertinya keluarga pas-pasan itu begitu harmonis. Anak-anaknya yang sudah beranjak remaja tampak jarang membantu mereka di toko, tapi mas Yanto tak segan2 membantu istrinya dengan suka rela, mulai dari kulakan bensin, melayani pembeli hingga bersih-bersih toko.

Yang aku heran, hampir setiap kali ke tokonya aku selalu mendapati mereka kelihatan habis keramas. Rambut keduanya basah atau kalaupun kering kalihatan kalau habis keramas. Tidak peduli ketemu pagi, siang, sore atau malam hari, aku selalu melihat mereka seperti habis "mandi besar".

Sebagai orang dewasa tentu saja aku berfikir, apakah yang kulihat itu karena mereka habis ML? Sebegitu seringkah? Pagi, sore, siang, malam? Apakah itu yang membuat mereka kelihatan harmonis? Bagaimana mereka bisa masih sebegitu mesra saat anak-anaknya sudah beranjak dewasa?
Saat kebetulan mampir ke tokonya bersama istriku, aku menggoda keduanya. "Wah... ini nggak pagi, nggak siang, nggak malam, keramas terus... Hayoo... habis ngapain" godaku.
Dengan tergelak mereka menimpali. "Ngapain lagi, masa nggak tahu?"

Rupanya keduanya paham pada sindiranku, dan seolah membenarkan apa yang jadi dugaanku selama ini.
"Ya pasti tahulah.... Kita juga ikut senang. Itu artinya harmonis" sahutku.
"Ya hidup mau apa lagi kalau nggak dinikmati, ya nggak, bu?" sahut mbak Nur sembari tertawa. Istriku hanya tersenyum kikuk.
"Kalau dinikmati sekarang kapan lagi, ya pak?" timpal suaminya.
Kami hanya tertawa tanpa sempat mengiyakan. Dalam hati aku membenarkan. Kita hanya hidup berapa tahun. Bahkan kupikir mestinya memang tidak ada waktu untuk menunggu dan menunggu menikmati hari-hari itu. Cuma persoalannya jalan hidup orang memang tidak sama.

"Sampeyan malah lebih enak, bu. Masih mudah, lebih sehat, dan punya segalanya" timpal istrinya kemudian.
"Punya apa? Sama saja. Yang penting cukup dan pada rukun aja, kan?" sahut istriku.
"Lho, kalau kita kan cuma hidup pas-pasan. Yang bisa dinikmati cuma itu, ya nikmati aja" timpal suaminya sembari disambut gelak tawa.

Sebelumnya aku memang sering cerita sama istri saol mbak Nur dan mas Yanto yang selalu keramas. Dia tidak percaya kalau itu karena mereka sering ML. Sampai di rumah aku bilang sama istriku. "Tuh... bener, kan kalau mereka memang sering keramas?"
"Alah..., kamu itu memang sembarangan aja kalau ngomong sama orang" sahutnya sengit.
"Tapi bener, kan?"
Dia hanya dia saja, lalu aku bilang padanya "Terus terang aku iri pada mereka. Mereka begitu menikmati kehidupan suami-istri, terlepas keadaan ekonominya seperti apa" Dia hanya tersenyum kecut dan
berusaha tidak begitu merespon.

Istriku memang tidak pernah berubah. Dia tetap seperti sebelumnya, dingin, kaku, dan gak interest untuk urusan yang satu itu, tanpa sedikitpun berubah. Hayalanku saja yang maksain aku bikin happy ending dengan happy moment semu, sekedar untuk menghibur diri. Demi nama baik , harmoni, dan anak-anak, cuma kesibukan, rokok, dan swalayan aja yang tetap jadi pelarian paling amanku
hingga detik ini.

Sering kali aku sudah patah arang, aku menyerah dan tak percaya perubahan itu kan terjadi. Aku percaya kata para ahli, kalau es kutub utara dan selatan mulai mencair karena pemanasan global, tapi aku tak percaya yang ini bisa mencair seabad lagi. Kalau yang beku air memang bisa cair, tapi kalau batu cuma bisa pecah aja...

Meski begitu, kadang aku berusaha sesekali. Kali ini akupun mencoba menggoda, "Ma, aku kok jadi pengen keramas, to"
"Ya sudah, sana. Sampo, sabun semua ada kok" sahutnya sembari nyelonong pergi.
"Nah, lho...????????"

Akupun cuma bisa bengong. Keramas aja? Ampun.... Maksudku kan bukan cuma keramas.... tapi sebelum keramas pengennya ya kaya mbak Nur dan mas Yanto itu.

Dasar nasib... nasib...